Skip to content

Dengan binatang berkaki delapan (1)

June 27, 2011

Catatan: Entah berguna atau tidak buat orang, namun setelah sekian lama absen menarikan jari untuk menulis di blog ini, saya mencoba berbagi cerita bagaimana saya bisa mulai mencintai binatang berkaki delapan ini yakni kalacemeti, bahasa susahnya Amblypygi (Arachnida). Ada beberapa yang mau saya bagi dalam beberapa artikel pendek. semoga ada manfaatnya. Maaf kalau saya lebih banyak menggunakan “aku” dalam tulisan saya (salam) **

Sewaktu kecil, aku hanya mengenal laba-laba yang sering membuat kotor langit-langit rumah. Laba-laba yang aku kenal pun hanya laba-laba kemlandingan (Nephila sp.) yang membuat sarang sangat besar di antara pohon jambu dan pohon belimbing di depan rumah.

Kalacuka, yang berbau kalau diganggu

Selain itu, aku selalu bermain bersama teman mencari kalajengking. Kita mencari kalajengking di lubang-lubang yang banyak ditemukan di lereng-lereng yang dulu belum banyak di beton seperti sekarang.

Dengan hanya berbekal lidi dari daun kelapa yang masih muda, dihilangkan daunnya kemudian dibuat seperti jerat melingkar. Menyusuri tebing-tebing tanah yang banyak ditemukan di desaku di Purworejo sana, apalagi yang dekat dengan kuburan membuat kita kadang mudah mendapatkan kalajeking.Waktu itu, aku menyadari kalau kalajengking merupakan salah satu binatang yang berbisa, yang dikeluarkan dari ekornya.

Mungkin saat itulah pertama kali secara tidak disadari aku melakukan kegiatan koleksi yang saat ini banyak aku tekuni. Meskipun saat itu, proses koleksi tersebut hanya sebatas untuk kesenangan semata. Namun, mungkin itulah cara pembelajaran yang harus aku alami  yang mungkin tidak banyak anak-anak sekarang alami, termasuk kedua anakku, Nurkahfi dan Nafisa.

Semasa sekolah tidak punya banyak kesan dengan binatang yang namanya laba-laba atau kalajengking yang aku peroleh di bangku sekolah. Waktu SMA, meskipun aku bergabung dalam kelas Biologi, namun tidak banyak hal yang tertanam dalam memori otakku.

Apa yang aku tahu justru banyaknya binatang-binatang asing seperti singa, jerapah dan kudanil dan binatang-binatang lain yang lebih banyak ditemukan di kebun binatang. Banyaknya binatang asing yang menempel di buku-buku pelajaran membuat aku tidak mengenal banyak kekayaan negara sendiri.

Mungkin itu salah satu sebab, anak-anak Indonesia tidak banyak mengenal binatang yang asli kampung halamannya sendiri. (Bersambung)

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: