Skip to content

Karst, dilema pemanfaatan lahan

July 1, 2011

Pemanfaatan karst yang perlu kajian lebih mendalam (C. Rahmadi)

Beberapa waktu lalu, ramai diberitakan gencarnya masyarakat Sukolilo menentang keras rencana pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Pati untuk mengijinkan pendirian pabrik semen dan penambangan kapur di Pegunungan Kendeng Utara.

Masyarakat dan LSM menolak rencana dengan investasi Rp. 5 triliyun tersebut karena dikhawatirkan mengancam mata pencaharian petani akibat terganggunya pasokan air ke lahan persawahan.

Selain itu, masyarakat dan LSM meragukan hasil AMDAL yang dilakukan oleh salah satu perguruan tinggi ternama di Jawa Tengah.

Hasil kajian tersebut diragukan oleh akademisi, peneliti dan para pegiat penulusur gua yang memahami karakteristik karst dan gua. Berbagai pihak juga meragukan kesahihan metode yang digunakan untuk Amdal sehingga dikhawatirkan hasilnyan tidak sesuai dengan kaidah keilmuan.

Selain Sukolilo, penolakan masyarakat terhadap rencana pembuatan maupun perluasan pabrik semen terjadi di Tuban. Masyarakat menentang rencana pembuatan pabrik semen PT Holcim dan perluasan pertambangan PT. Semen Gresik di Desa Merakurak.

Inilah segelintir persoalan pemanfaatan kawasan karst yang masih dipandang hanya sebagai potensi tambang. Sepertinya, pemerintah maupun pemegang kebijakan gagal melihat potensi lain yang ada di kawasan karst.
Konflik pemanfaatan
Konflik antar masyarakat Sukolilo dan pemerintah Kabupaten Pati dan Provinsi Jawa Tengah terus berlarut-larut. Masyarakat bersikeras bahwa Pegunungan Kendeng Utara, khususnya Karst Sukolilo merupakan sumber mata pencaharian yang penting untuk kelangsungan pertanian mereka. Sementara pemerintah ngotot sebagai kawasan yang dapat dimanfaatkan untuk pertambangan dan industri.

Hingga puncaknya, investasi senilai 5 triliyun itu mangkrak dan membuat berang sang gubernur yang menyatakan LSM yang berjuang bersama masyarakat sebagai “LSM sontoloyo”.

Konflik pemanfaatan karst nampak jelas dengan keluarnya RTRW Provinsi Jawa Tengah yang menetapkan kawasan karst Sukolilo sebagai kawasan pertambangan dan industri yang jelas-jelas ini bertentangan dengan semangat yang ada di Peraturan Pemerintah No. 26/2008.

Berbagai pihak menuding penentuan RTRW provinsi berdasar Perda No. 6 tahun 2010 ini menyalahai aturan karena tidak melibatkan unsur masyarakat dan mendengarkan masukan pihak-pihak yang berkompenten.

Namun nampaknya hal ini tidak membuat surut niatan Bupati Tasiman untuk meloloskan investasi triliyunan rupiah yang diklaim akan meningkatkan laju roda ekonomi di provinsi yang paling lambat pertumbuhan ekonominya tersebut.

Beberapa waktu lalu, Bupati Tasiman kembali mengundang PT Semen Gresik untuk segera membuka pabriknya di Pati  dengan alasan sudah ada payung hukum Perda no. 6 Tahun 2010 tentang  RTRW Provinsi. Meskipun beberapa waktu lalu, PTUN Semarang telah memenangkan gugatan masyarakat terhadap rencana pembukaan pabrik tersebut.

Salah satu contoh koloni kelelawar pemakan serangga di Ambon

Potensi karst bukan hanya tambang
Paradigma pemanfaatan kawasan karst hanya sebagai potensi pertambangan hendaknya mulai diubah oleh pemegang kebijakan. Karst mempunyai potensi lain yang bisa digali untuk dikembangkan.

Belajar dari Thailand dan Vietnam, pariwisata mereka berkembang pesat karena bisa memanfaatkan kawasan karst sebagai potensi wisata yang tidak ternilai. Turis berbondong-bondong ke kawasan karst Phang Nga hanya untuk melihat lokasi shooting James Bond. Selain itu, film Holywood lain seperti “the Beach” yang dibintangi oleh Leonardo De Caprio juga menyuguhkan eksotisme pulau karst yang tiada tara.

Selain menjual bentang alam yang eksotis, kawasan karst juga menawarkan potensi pariwisata  adrenalin di kegelapan gua yang belum dikelola secara optimal.
Pengembangan pariwisata gua di Indonesia masih terbelenggu dengan pendekatan pariwisata massal yang justru berpotensi merusak kelestarian gua.

Karst juga menjadi tandon air yang penting untuk kawasan sekitarnya. Meskipun di atas pemukaan nampak hanya tanah kering kerontang, namun di dalamnya mengalir sungai bawah tanah yang tidak pernah kering dimakan musim.Sungai seperti  inilah yang mengalir dan menjadi sumber utama pertanian di beberapa daerah seperti di Sukolilo.

Potensi biologi terkadang terabaikan. Tidak hanya penting bagi ilmu pengetahuan, kawasan karst dengan gua-guanya sebagai tempat hidup jutaan kelelawar yang berperan menjaga keseimbangan lingkungan.

Setiap sore, kelelawar keluar gua mengelana berkilo-kilometer untuk mencari mangsa. Kelelawar pemakan serangga, konon satu ekor dapat memakan seperempat barat badannya yang berkisar antara 17 gram. Bayangkan berapa ekor serangga yang berpotensi menjadi hama pertanian dapat dimakan setiap malamnya oleh ribuan kelelawar dalam satu gua. Inilah anugerah pembasmi hama gratis yang telah disediakan oleh alam.

Selain itu, kelelawar pemakan buah membantu menyebarkan biji hingga tempat yang sulit dijangkau oleh manusia. Kelelawar pemakan madu, Eonycteris spelaea,  membantu penyerbukan tanaman bakau disepanjang pantai.

Inilah potensi lain yang tidak dapat dihitung keuntungan ekonominya, namun sayangnya terabaikan begitu saja.

Keberpihakan kebijakan
Kawasan karst, berdasarkan Keputusan Menteri ESDM No.1456K/20/MEM/2000 tentang Pedoman Pengelolaan Kawasan kars diklasifikasikan menjadi tiga kelas.

Karst Kelas 1 merupakan kawasan lindung sumberdaya alam (Pasal 13) yang tidak diperbolehkan ada kegiatan penambangan (Pasal 14, ayat 1)). Karst kelas 2 berdasarkan Pasal  12 ayat 2 memiliki fungsi pengimbuh air bawah tanah (Huruf a) dan mempunyai jaringan lorong gua yang kering dan mempunyai speleotem yang sudah tidak aktif (Huruf b). Kawasan ini dapat dilakukan penambangan dan kegiatan lain dengan studi lingkungan. Karst kelas III berdasarkan pasal 12 ayat 3, yaitu kawasan yang tidak memiliki kirteria dalam ayat 1 dan ayat 2.

Namun, dengan keluarnya Peraturan Pemerintah No. 26/2008 tentang Rencana Tata Ruang Nasional, Keputusan menteri tersebut menjadi tidak bermakna. Dalam peraturan pemerintah tersebut dinyatakan kawasan karst merupakan salah satu Kawasan Lindung Geologi yaitu kawasan cagar alam geologi (Pasal 52(5), huruf a).

Perlindungan kawasan karst sangat mutlak dilakukan karena mempunyai bentang alam yang unik (Pasal 53(1), huruf b dan c) karena memiliki bentang alam gua dan bentang alam karst (Pasal 60 (2) huruf a dan f).

Berdasarkan peraturan pemerintah ini sudah selayaknya semua kawasan karst dilindungi meskipun untuk pemanfaatan ekonomi perlu dipertimbangkan dengan menggunakan kaidah yang sesuai.

Peran masyarakat ilmiah
Peran masyarakat ilmiah dalam membantu dan mencarikan jalan keluar konflik pemanfaatan sangat krusial saat ini.

Pelaku Amdal di kawasan Sukolilo dicecar karena dianggap mempunyai kelemahan dalam pengambilan data. Pihak akademisi, peneliti dan penelusur gua mampu memberikan argumen yang lebih ilmiah untuk mematahkan hasil kajian tersebut.

Namun sayangnya, belum ada lembaga atau organisasi ilmiah yang bisa memayungi para peneliti, akademisi dan penelusur gua agar bisa lebih formal berperan dalam membantu menyelesaikan permasalahan pemanfaatan kawasan karst. Selain itu, memberikan masukan kepada pemegang kebijakan untuk mengelola kawasan karst secara benar dan sesuai dengan kaidah pemanfaatan yang berkelanjutan.

Untuk mengakomodasi ini, sudah waktunya para peneliti, akademisi, pemerhati dan penelusur gua untuk berkumpul dalam satu wadah yang lebih formal.  Sehingga wadah ini dapat secara optimal memberikan ‘scientific opinion’ kepada para pihak yang berkepentingan terhadap kawasan karst.

Jalan keluar
Pemanfaatan kawasan karst bukan satu hal yang tabu, namun pemanfaatan tersebut hendaknya sesuai dengan kaidah dan tidak hanya mengedepankan kepentingan ekonomi semata.

Selain itu kepentingan perlindungan dengan pengelolaan yang bijak juga akan mendatangkan keuntungan ekonomi yang justru terkadang tidak ternilai.

Eksplorasi potensi lain sudah selayaknya dilakukan oleh pemerintah daerah untuk mengidentifikasi potensi yang layak untuk dikembangkan dan memberikan keuntungan ekonomi.

Sekiranya tambang menjadi jalan keluar terakhir, hendaknya pemanfaatan dilakukan kajian yang komprehensif dari berbagai bidang. Kajian yang melibatkan semua unsur sehingga secara ekonomi, sosial, lingkungan dan ilmu pengetahuan memberikan mafaat untuk kesejahteraan masyarakat.

Masyarakat ilmiah hendaknya diberdayakan untuk memberikan masukan yang obyektif secara ilmiah sekaligus sebagai “second opinion” sehingga keputusan yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan dan diterima semua pihak.

********

Oleh:

Cahyo Rahmadi
Peneliti Bidang Pusat Penelitian Biologi LIPI

Catatan: Artikel ini sebenarnya pernah saya masukan ke salah satu koran tapi sampai sekarang tidak ada kejelasan sehingga sudah mengendap beberapa lama dan saya malas untuk mengkonfirmasi ulang. Mungkin ada beberapa informasi yang sudah kadaluarsa yang belum saya update. Mohon masukan sekiranya ada informasi yang outdated.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: