Skip to content

Jawa 3: Menyaksikan parade senja di Pelabuhan Ratu

July 7, 2011

Setelah menyusuri gua-gua di tanah Banten, saya kembali akan melanjutkan cerita tentang bagaimana perjalanan kami dalam mengeksplorasi gua-gua di jawa.

Saat ini, saya akan menceritakan jelajah kami di tatar Sunda, tepatnya di Gua Buniayu, Sukabumi.

Setelah menyusuri jalan berliku dari Desa Sawarna, kami sejenak berhenti di Pantai Pelabuhan Ratu, karena kami harus melihat salah satu gua yang terkenal dengan keberadaan kelelawarnya yang sangata melimpah.

Beberapa kilometer dari Pantai pelabuhan Ratu, Gua Lalay Pelabuhan Ratu dapat dicapai dengan mudah, dan hampir semua orang tahu karena gua ini salah satu obyek wisata. Gua ini terletak di Desa Citarik, Pelabuhan Ratu.

Nama gua sama persis dengan gua yang ada di Desa Sawarna, karena hampir semua gua yang dihuni oleh kelelawar di beri nama Gua Lalay.

Sama dengan di Jawa Tengah atau Jawa Timur, gua yang melimpah kelelawarnya biasanya disebut dengan Gua Lawa, sehingga harus diberi catatan Gua Lawa mana yang dimaksud.

Hal yang sama juga terjadi di Sulawesi Selatan, gua-gua yang dihuni kelelawar diberi nama dengan Gua Paniki.

Kembali ke Gua Lalay, Pelabuhan Ratu, gua ini merupakan hanya sebuah ruangan besar dengan mulut gua yang lebar.

Gua ini mempunyai jutaan kelelawar dengan suara-suara yang sanga ribut di siang hari. Menurut Sigit Wiantoro, kelelawar yang menghuni Gua Lalay merupakan salah satu kelelawar jenis pemakan serangga dari jenis Chaerophon plicatus dengan bahasa Indonesia disebut dengan “tayo kecil”

Di sore hari, sekitar jam 5.30-6.30 jutaan kelelawar ini keluar dari dalam gua secara bergantian untuk mencari pakan yaitu serangga.

Pemandaangan ini sangat menakjubkan karena seakan-akan meliuk-liuk seperti angin puting beliung menuju suatu tempat untuk mencari makan.

Penghasil pupuk

Kelelawar ini menghasilkan tumpukan guano yang konon dikabarkan setiap 2 bulan menghasilkan sekitar 2 ton guano yang konon digunakan untuk bahan pupuk.

Satu bentuk anugerah yang diberikan alam buat manusia, namun sayang terkadang manusia serakah memanfaatkannya.

Banyak gua yang mempunyai kelelawar sangat melimpah, akhirnya kelelawarnya habis karena terganggu karena aktivitas penambangan yang mengganggu mereka.

Penambangan guano semestinya dilakukan pada malam hari manakala kelelawar keluar gua mencari makan, namun terkadang manusia tidak memperhatikan itu semua.

Para penambang lebih senang menambang siang hari tanpa mau tahu kalau aktivitas tersebut telah mengganggu keberadaan kelelawar.

Di Gua Lalay ini, keberadaan kelelawar diperkirakan sudah berkurang dibandingkan beberapa tahun yang lalu.

Dikenal sejak jaman Belanda

Di jaman Belanda, gua ini sudah dikenal oleh orang-orang Belanda, dalam salah satu majalah Tropische Natuur, pada tahun 1938 foto mulut gua ini sudah muncul di majalah tersebut.

Pada tanggal 7 November 1937 sebuah perjalanan dilakukan orang Belanda untuk mengunjungi gua ini.
Kondisi di tahun 1937, mulut gua tidak mengalami perubahan yang cukup mencolok. Hanya saja saat ini, di depan gua telah dibangun sebuah kolam ikan. Sebuah catatan sejarah yang cukup menarik tentang kondisi gua di masa lalu dan masa sekarang.
Semoga, popularitas Gua Lalay di Pelabuhan Ratu, tetap terjaga selamanya. 
Artikel terkait:
  1. Melongok gua-gua Jabar
  2. Jawa1: Menjelajah tanah Banten
  3. Jawa2: Mengukuru kegelapan
Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: