Skip to content

Wisata gua – bagaimana menyikapinya?

July 13, 2011

Salah satu sudut Gua Wisata "Gua Akbar" Tuban Jawa Timur

Gua merupakan salah satu potensi wisata yang belum banyak dikembangkan meskipun sebenarnya wisata di dalam gua sudah banyak dibuka di beberapa daerah. Lihat saja Gua Jatijajar di Gombong yang telah sekian tahun dibuka untuk umum kemudian Gua Gong Pacitan yang mempunyai ornamen cukup indah. Di Jawa Timur, ada Gua Akbar di Tuban dan Gua Maharani di Lamongan dan masih ada beberapa gua yang dikembangkan untuk “mass tourism”

Mass tourism disini diartikan gua dibuka untuk siapa saja, kapan saja dalam jumlah berapa saja tanpa memperhatikan jumlah maksimal pengunjung pada satu waktu. Konon, di Gua Gong yang hanya beberapa ratus meter yang digunakan untuk wisata, bisa dikunjungi ribuan bahkan jutaan pengunjung dalam satu hari terutama pada saat hari libur.

Hal ini lah yang menjadikan salah satu kontribusi “menurunnya” kualitas keindahan gua karena adanya perubahan lingkungan gua akibat aktivitas kunjungan yang tidak terbatas dan tidak pernah berhenti.

Model wisata gua ini banyak dikembangkan oleh pemerintah daerah yang lebih senang untuk memperoleh Pendapatan Asli Daerah secara mudah dan relatif cepat. Dibandingkan dengan membuka wisata gua dengan jumlah terbatas dan tetap menjaga keaslian gua yang notabene membutuhkan waktu lebih lama untuk “kembali modal” atau capai BEP.

Wisata minat khusus

Lantas ada beberapa yang menawarkan solusi untuk membuka wisata minat khusus dengan memperhatikan jumlah dan kunjungan wisatawan dan yang jelas didampingi oleh ‘pemandu’.

Salah satu yang sudah dikembangkan lebih dahulu ada di Gua Buniayu dimana disana tersedia untuk wisata umum dan wisata minat khusus.

Wisata minat khusus mempunyai jalur yang lebih menantang dengan kondisi gua yang lebih berat dan cocok buat yang menyenangi tantangan. Di Gua Buniayu, kalau kita menginginkan wisata yang satu ini kita harus merogoh kocek lebih dalam dibandingkan wisata umum. Karena tentu saja fasilitas dan layanan akan berbeda dg wisata umum dan kepuasan yang diterima pun berbeda.

Paket yang satu ini kita hanya berbekal badan penerangan secukupnya dan baju ganti atau peralatan standar minimal survival. Selain itu, kita tidak perlu repot memikirkan baju, sepatu, helm atau alat penelusuran vertikal karena mereka telah menyediakan dan tentu saja “pemandu” yang sudah berpengalaman.

Selain di sana, sekarang juga dikembangkan satu tempat yg cukup menarik yaitu di Gua Jomblang yang dikembangkan oleh Cahyo Alkantan. Disini, orang-orang yang mempunyai keberanian dapat menjajal menyusuri gua dengan menuruni luweng dari berbagai ke dalaman tergantung kemampuan kita. Sekali lagi, di sanan sudah disediakan alat penelusuran dan tentu saja pemandu yang berpengalaman yang memperhatikan “safety” dan benar-benar menjaga ‘etika gua’

Mulut Gua Ngerong, Tuban Jawa Timur

Dilema

Pemanfaatan gua tentu saja membawa konsekwensi baik untung maupun rugi bagi gua, masyarakat atau komunitas penelusur gua yang ada di daerah itu.

Hal ini adalah sebuah resiko dari pemnafaatan itu sendiri. Namun, bagaimana kita ‘mengelola’ dampak dari pemanfaatan itu yang paling penting.

Pemanfaatan gua untuk “mass tourism” tentu saja membawa dampak negatif yang cukup nyata bagi kondisi gua karena lingkungan gua jelas-jelas di rubah scara radikal dengan pemberian beton dan penerangan yang tidak pernah padam.

Selain itu, tidak adanya pembatasa jumlah kunjungan dan jumlah pengunjung membawa konsekwensi bagi menurunya kualitas gua seperti peningkatan suhu sehingga banyak ornamen gua yang mati karena air menguap begitu cepat akibat suhu yang begitu panas. Tumbuhnya jamur-jamur di dekat penerangan juga dapat menyebabkan kotornya ornamne gua.

Silakan yang mau berkunjung ke Gua Gong, silakan amati, masih adakah tetesan air di ornamen-ornamen yang indah itu, apakah masih ada lembab atau basah di sana. Di sekitar lampu, amati apakah ada jamur-jamur atau bahkan lumut yang tumbuh disana.

Lingkungan gua adalah lingkungan tertutup, sirkulais udara dari luar ke dalam gua hampir tidak mungkin jika kondisi gua memiliki mulut gua sedikit dan kecil apalagi mulut gua buatan sperti Gua Gong.

Lantas bagaimana dengan yang minat khusus?

Model yang satu ini tentu saja lebih ramah terhadap gua karena selain didampingi oleh pemandu, jumlah yang terbatas memberi kan keuntungan sendiri bagi gua.

Pendekatan pemanfaatan dengan wisata minat khusus lebih bisa dikendalikan karena pengunjung bisa diberi arahan untuk tidak melakukan hal-hal yang berpotensi merusak atau mengganggu gua. Berbeda dengan wisata masal dimana semua orang bisa apa saja dari potong ornamen, pegang-pegang ornamen bahkan pukul-pukul ornamen karena bunyinya yang enak di dengar.

Wisata minat khusus tentu saja lama untuk mengembalikan modal, tapi dalam jangka lama karena memilik “tarif” yang lumayan tentu saja bisa cukup menjanjikan.

Lantas apa yang mestinya dijual?

Menurut saya, wisata gua itu ada dua macam yakni menjual “keindahan gua” atau lebih lugasnya menjual “gua” seperti yang sudah dilakukan oleh pemda-pemda atau Perhutani.

Siapapun yang masuk ke gua tersebut harus merogoh kantong dan itu sah-sah saja. Sehingga jualan “gua” model seperti ini tidak perduli berapa orang yang masuk dan mau apa saja di dalam gua yaa terserah, karena biasanya tidak didampingi pemandu yang bisa mengawasi sekaligus memberi kesadaran kepada pengunjung.

Jenis yang kedua adalah “menjual pelayanan” yakni cave guiding. Berbeda dengan wisata umum, selain pengunjung bisa menikmati keindahan gua mereka juga “dilayani” dengan “pelayanan” lain yakni akses untuk memasuki gua dan peralatannya serta hak untuk mendapatkan informasi apa saja yang ada di dalam gua dan seluk beluknya.

Wisata seperti inilah yang mestinya dikembangkan “wisata yang berjualan pelayanan” dimana setiap pengunjung bisa mendapatkan pelayanan dari paket yang ditawarkan.

Model sperti ini mestinya tidak hanya berlaku untuk satu gua, bisa di mana saja, gua dengan tipe apa saja. Jadi pihak penyelenggara menawarkan pelayanan dari kesenangan dan juga yang paling penting keselamatan.

Harga pun bervariasi tergantung tipe gua dan tingkat kesulitan gua sehingga pengunjung bisa merasakan sesuatu yang berbeda dan penyedia layanan memiliki tanggung jawab yang berbeda.

Jadi akan sangat tidak masuk akal “jika” ada beberapa gua yang ditentukan sebagai “gua wisata” oleh pihak tertentu dan siapa saja yang masuk kedalam gua tersebut baik ‘caver profesional maupun amatiran harus merogoh kocek yang cukup dalam meskipun sang “pengunjung/caver” tidak memerlukan “panduan” dari pihak yang menarik tarif. Selain itu, di dlam gua tidak disediakan apa-apa sebagai salah satu fasilitas yang harus diterima karena telah “membayar”.

Ketentuan ini disamakan dengan pengunjung biasa yang tidak mempunyai pengalaman sehingga membutuhkan pemandu dan alat-alat penelusuran.

Model yang seperti inilah yang disebut “jualan gua” atau mengkomersilkan gua bukan “mengkomersilkan pelayanan cave guiding”.

Sepanjang belum ada fasilitas yang ditawarkan oleh penyedia jasa, tentu saja tidak ‘fair’ untuk menarik tarif dengan jumlah tertentu.

Misalnya, ini misalnya saja, semoga tidak ada dalam kenyataan. Saya seorang caver, dan dulu biasa keluar masuk di daerah Gunung Kidul karena ingin menikmati tantangan gua berair masuklah saya ke Gua Seropan. Gua Seropan adalah gua yang sangat umum dikunjungi oleh siapa saja kapan saja dari mana saja gratis paling hanya memberi kan uang untuk rokok dan beras buat Juru Kunci dan isi buku tamu.

Nah, terus ada pihak tertentu yang ingin “mengembangkan” wisata gua ini kemudian dimasukkanlah Gua Seropan ini dalam daftar yang akan dikembangkan.

Kemudian karena saya kangen caving, saya pergi lagi ke Gua Seropan hanya sekedar ingin merasakan dinginnya dan segarnya air di sana  tapi karena Gua Seropan itu sudah masuk dalam daftar “gua wisata” maka kali ini saya dan teman-teman harus merogoh kocek yg cukup dalam padahal saya tidak perlu guide, tidak perlu alat karena semua itu sudah ada dan saya bawa sendiri.

Hal seperti inilah yang menurut saya kurang tepat. Ini sama saja “menjual gua” dengan dalih yang mungkin sulit untuk dipahami.

Lainnya halnya jika, ada orang awam yang ingin masuk ke Gua Seropan, mereka diantar dan dilengkapi dengan peralatan yang disediakan oleh “pemandu”, kalau mereka harus merogoh kocek dlam-dalam itu hal yang wajar, karena mereka membeli “pelayanan” yang ditawarkan “penyedia”.

Sangat tidak masuk akal jika sekiranya ada, katakanlah, anak Gunung Kidul yang mau masuk ke Gua Seropan tapi ternyata mereka harus membayar ke pihak tertentu meskipun mereka tidak “memerlukan” layanan apa-apa dari mereka. Karena mereka sdh bisa masuk gua sendiri dan bawa alat sendiri.

Hal inilah yang semestinya perlu dicarikan konsensus untuk menyelesaikan sekiranya “permasalahan” seperti ini terjadi.

Menurut saya, gua-gua itu menjadi milik bersama, kecuali sang “pemilik” tanah menentukan hal yang lain misalnya setiap yang masuk ‘menyisihkan’ rejekinya untuk merawat mulut gua supaya tidak kotor dan seperti biasanya, sukarela.

Tapi kalau ada pihak yang di luar pemilik lantas memberlakukan tarif masuk buat siapa saja sungguh kurang “masuk akal” dan sepertinya sudah mencederai nilai-nilai sosial yang ada di masyarkat penelusuru gua khususnya dan masyarakt luas pada umumnya.

Semoga hal ini tidak terjadi di gua-gua di Jawa seperti Gunung Sewu, Gombong dan Menoreh, sehingga aktivitas penelusurna gua tetap dinamis tanpa friksi-friksi yang tidak perlu hanya karena masalah“komersialisasi”.

Seperti dalam rafting, di Sungai Progo ada beberapa operator dan semua memiliki hak untuk menggunakan dan menjual layanan tanpa ada yang mesti merasa memiliki sungai sehingga tidak ada pihak lain yang melarang atau mengenakan tarif untuk memanfaatkan sungai tersebut. Mungkin hal seperti ini  bisa dilakukan dan dikembangkan dalam wisata minat khusu di gua.

Sekiranya ada yang bergerak dalam wisata gua minat khusus, jualan lah “pelayanan cave guidingnya, bukan menjual guanya” 


Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: