Skip to content

Jomblang-Grubug – untuk lebih baik

July 21, 2011

Pengantar:Tulisan ini merupakan bagian dari urun rembug saya tentang Jomblang dan sekaligus menanggapi beberapa diskusi menarik tentang kondisi Jomblang-Grubug beberapa waktu lalu.

Tulisan ini merupakan gambaran umum dari kondisi-kondisi Jomblang yang mungkin bisa digunakan untuk menjadikan Jomblang lebih baik.

Apa yang sudah ada sekarang perlu disikapi dengan bijak dan bagaimana membantu untuk mengembangkan yang lebih konstruktif dan ramah bagi kondisi Luweng Jomblang itu sendiri.

Selain itu perlu segera dicarikan solusi bersama bagaimana menjaga kondisi Jomblang agar tetap terjaga dan dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Tulisan ini sebagian adalah tulisan saya ditambah Quotes dari salah satu teman (Sunu Widjanarko) yang lebih melihat ada yang perlu dibenahi pada diri kita sendiri para aktivis penelusuran gua. Selain itu bagaimana melihat Jomblang dg fakta dan kondisi yang ada sekarang dan mencoba mengurai permasalahan yang ada dan mencari jalan keluarnya. Semoga hal ini bisa menjadi bagian dari kontribusi “Jomblang-Grubug lebih baik” (note: Cahyo Rahmadi)

Luweng Jomblang merupakan salah satu gua yang dikenal karena memilik keunikan dan keindahan yang tidak terbantahkan. Gua bertipe ”collapse doline” ini memiliki kedalaman lintasan yang bervariasi dari 20 meter sampai 50 meter.

Lorong gua yang menghubungkan Jomblang dan Grubug menjadi daya tarik tersendiri karena menghadirkan pemandangan yang menakjubkan baik ketika menuju ke Grubug maupun sebaliknya menuju Jomblang. Terutama ketika jam tertentu, dimana, sinar matahari yang menerobos mulut Luweng Grubug menampakan lukisan cahaya. Sebuah pemandangan yang sangat indah.

Namun disini saya tidak akan membahas itu semua karena semua orang telah paham dengan potensi yang ada di Jomblang.

Fakta seputar Jomblang

Luweng Jomblang-Grubug dipetakan oleh BCRA pada tahun 80-an dan dipublikasikan dalam buku laporan pada tahun 1982. Luweng Jomblang terhubung dengan Grubug melalui lorong besar dengan panjang sekitar 300 meter dan berlanjut pada satu sistem Kali Suci (Lihat Peta).

Kondisi Jomblang merupakan salah satu contoh ”gua runtuhan” yang mempunyai vegetasi yang masih terjaga di dasar luwengnya. Bebeberapa penelitian tentang vegetasi telah dilakukan di dasar luweng ini dan telah menghasilkan beberapa sarjana.

Penelitian tentang kondisi arthropoda di permukaan tanah di dasar Luweng pun juga pernah dilakukan oleh Matalabiogama.

Namun sayangnya, jumlah berapa jenis vegetasi dari pohon, herba, paku-pakuan yang tumbuh di Luweng Jomblang belum terdokumentasi dengan baik. Hal ini yang menyulitkan ketika sebuah perubahan dalam rentang waktu tertentu terjadi di Luweng Jomblang.

Jomblang dulu bukanlah Jomblang yang ada kini. Dulu, berdasarkan laporan BCRA, lorong penghubung antara Luweng Jomblang dan Grubug merupakan lorong favorit dimana kelelawar dengan nyaman bertengger di sana sehingga dalam peta gua dicantumkan ”bat tunnel”. Namun apakah catatan ini mengindikasikan keberadaan kelelawar pada saat survey atau sebatas indikasi ”sisa” keberadaan kelelawar belum cukup jelas (Lihat Quotes: Sunu Widjanarko).

Sejak saya mengenal Jomblang tahun 1996-an, lorong ini pun sudah tidak dihuni lagi oleh kelelawar, semua hanya tinggal bercak-bercak hitam yang menempel di langit-langit gua.

Sekitar tahun 2006 saya bersama-sama teman dari LIPI sempat melakukan koleksi fauna di di dalam sungai di Grubuk untuk mengkoleksi udang dan ikan. Teman-teman yang bekerja dengan mamalia juga sempat memasang perangkap tikus di dasar luweng yang menghasilkan catatan menarik dari sini (P2 Biologi LIPI, 2006).

Tikus tersebut dari jenis Rattus tiomanicus yang merupakan catatan pertama kali jenis ini ditemukan di dasar luweng di Gunung Kidul. Sedangkan jenis tikus yang banyak menghuni daerah perkampungan yaitu Suncus murinus. Salah satu mamalia lain adalah tupai berjenis Tupaia javanica yang ditemukan di dasar Luweng Jomblang (P2 Biologi LIPI, 2006)

Selain itu, temuan beberapa jenis amfibia juga dilaporkan dalam laporan perjalanan hasil penelitian di daerah Gunung Sewu. Jenis Polypedates leucomystax dan Bufo melanostictus banyak ditemukan di dasar Luweng Grubug dan Luweng Jomblang.

Ada beberapa kajian menarik yang dilakukan di Luweng Jomblang dari masalah vegetasi sampai hewan kecil yang disebut dengan ekor pegas (Collembola). Salah satu kajian tentang ekor Pegas dilakukan oleh Johanes Dolu (1989) salah satu anggota Matalabiogama. Dalam penelitiannya Johanes Dolu mengenali ada 3 zona vegetasi yaitu zona pohon-semak-herba, zona semak-herba-paku dan zona paku atau tanpa vegetasi.

Dari kondisi ini, ditemukan kecenderungan bahwa ekor pegas lebih melimpah pada zona pohon-semak-herba dan semakin menurun kemelimpahannya pada zona semak-herba-paku dan zona paku atau tanpa vegetasi.

Dari temuan ini menunjukkan, kondisi vegetasi di dasar Luweng Jomblang sangat berpengaruh pada keberadaan fauna yang ada di permukaan tanah di dasar luweng dalam hal ini ekor pegas.

Penelitian vegetasi juga dilakukan oleh Matalabiogama pada tahun 1989, dengan melakukan analisis di dasar Luweng Jomblang. Dari hasil analisis vegetasi diperoleh adanya perbedaan penyusun vegetasi permukaan dan di dasar luweng. Jenis pohon yang mempunyai nilai penting paling tinggi yaitu Genipa americana (?). Dari hasil penelitian tersebut Matalabiogama (1989) menyimpulkan bahwa vegetasi dasar Luweng Jomblang merupakan vegetasi dalam tingkat lanjut dan merupakan ekosistem yang mempunyai daya regenerasi tinggi.

Kemudian pada tahun 1992, Matalabiogama juga melaporkan hasil penelitiannya tentang jenis-jenis tumbuhan paku (Pteridophyta) yang tumbuh di Luweng Jomblang. Dari laporan Matalabiogama (1992) ditemukan enam jenis paku yaitu Selaginella sp., Adiantum sp., Pityrogramma sp., Nephrolepis sp., Pteris sp., dan Davalia sp.

Selain itu, salah satu penelitian tentang kecepatan fotosintesis dua jenis paku yaitu Heterogonium sp dan Dryopteris sp yang dilakukan oleh M. Aidil Sahalo (2000) menemukan bahwa kecepatan fotosintensis, indeks stomata, kadar klorofil dan tebal daun menurun dengan semakin dalam bagian gua. Selain itu, morfologi tumbuhan paku nya pun semakin kecil.

Kondisi terkini

Saat ini, Luweng Jomblang-Grubug dan Kali Suci sudah menjadi salah satu daerah tujuan wisata minat khusus yang banyak dikenal orang. Penampakan di sekitar Luweng Jomblang pun telah berubah 180 derajat dari apa yang saya kenal dulu.

Semua itu, tidak lepas dari peran Cahyo Alkantana yang melakukan pengembangan Luweng Jomblang dan pemanfaatannya untuk wisata minat khusus.

Saya terus terang tidak tahu banyak kondisi dasar Luweng Jomblang saat ini, karena terakhir kali saya turun ke Luweng Jomblang pada tahun 2006.

Saya hanya bisa mengamati kondisi permukaan di sekitar Luweng Jomblang yang sudah berbeda dengan adanya bangunan pendopo dan fasilitas lain.

Saya berkesempatan untuk melihat Jomblang ketika bergabung dengan teman-teman dalam acara Trans Karst bulan Januari 2011 kemarin dimana seluruh peserta di beri kesempatan untuk menikmati makan malam di sana.

Selain itu, Cahyo Alkantana juga menginisiasi untuk melakukan penghijauan di sekitar luweng dengan tumbuhan lokal yang tentu saja ini menambah nilai lebih. Pada saat Trans-Karst pun, perwakilan negara-negara peserta konferensi diberi kesempatan untuk menanam pohon lokal. Tentu saja ini sangat berarti mengingat kondisi Gunung Kidul yang dikenal sangat gersang dan sangat sulit untuk dihijaukan.

Namun, semua itu tampaknya tanpa kendala bisa diwujudkan di sekitar Luweng Jomblang. Secara pribadi, tentu saja saya mengapresiasi langkah ini.

Sementara saya tidak tahu kondisi dasar luweng terkini yang konon telah banyak terganggu sehingga banyak ”sapling” atau anak pohon yang rusak yang konon rusak akibat mulai meningkatnya kunjungan ke Luweng Jomblang. Selain itu, kondisi dasar luweng yang ”terkoyak” karena banyak nya dilintasi oleh pengunjung juga menjadi salah satu sebab gangguan karena menjadi ”jalan setapak” (Besten F. Sitepu , 2011 Notes di Facebook).

Menanggapi ’fenomena’ tersebut Cahyo Alkantana dalam komentarnya menanggapi tetap berkomitmen untuk mengembangkan Jomblang berdasarkan asas perlindungan gua. Dia juga berkomitmen untuk mengembalikan seperti aslinya sehingga bisa menjadi laboratorium alam (Bisa dilihat di Notes FB Besten dalam Comments).

Seberapa besar daya dukung Jomblang-Grubug?

Ketika berbicara pengembangan gua atau lokasi untuk tujuan wisata tentu saja kita harus memperhatikan daya dukung gua atau lingkungan dr tujuan wisata tersebut.

Menyikapi hal ini, berdasarkan komentar Cahyo Alkantana, telah ditentukan beberapa zona terutama dalam hal ini zona rawan yaitu di Luweng Jomblang karena hutan alami dan sekitar sungai karena alasan fungsi air yang dimanfaatkan oleh masyarakat.

Cahyo Alkantana pun telah menentukan jumlah maksimal yang bisa masuk bersamaan yaitu sebanyak 25 orang yang itu juga masih akan dikaji lagi berdasarkan pengamatan akibat. Meskipun saya pribada belum tahu apa dasar penentuan jumlah dari 25 orang dalam waktu yang bersamaan ini.

Selain itu, dia juga menetapkan angka maksimal 25 orang melalui Jalur VIP dan Jalur Barat. Jumlah ini diluar kunjungan penggiat caving yang bisa kapan saja datang yang konon justru sering menjadi ”penyebab” rusaknya vegetasi di bawah karena menggunakan dua jalur di selatan yg langsung jatuh ke hutan dan memotong ”hutan” untuk menuju ke lorong ke grubug seperti yg diungkapkan Cahyo Alkantana dalm komentarnya menanggapi tulisan Besten.

Dia juga menegaskan akan mengambil langkah dalam waktu dekat hanya akan menentukan 4 jalur yakni jalur VIP dan 3 jalur yang ada di barat.

Penelusuran untuk penelitian LIPI 2006

Namun yang menjadi permasalahan adalah seberapa besar sebenarnya daya dukung Luweng Jomblang Grubug dapat mengakomodasi kunjungan “wisata” tanpa mengganggu keseimbangan lingkungan di Jomblang dan Grubug terutama keberadaan vegetasi di dalamnya.

Perlu rasanya dilakukan perhitungan dengan menggunakan metode perhitungan daya dukung yang ada khususnya yang digunakan untuk pemanfaatan gua sebagai daerah tujuan wisata baik wisata umumu (mass tourism) maupun wisata minat khusus.

Sekiranya dari kondisi fisik Jomblang-Grubug yang bisa digunakan hanya sekitar 300-350 m mungkin perlu dihitung seberapa banyak orang yang bisa berkunjung dalam satu waktu.

Mengapa 300-350 m, karena berdasarkan peta BCRA (1982) panjang lorong dari Luweng Jombang dan Luweng Grubug berkisar antara 250-300 m. Sekiranya sepanjang lorong tersebut dapat digunakan untuk akses para pengunjung tentu saja perlu juga dihitung luasan yang bisa digunakan yang aman buat pengunjung dan buat gua.

Mungkin dengan dasar inilah bisa dihitung berapa jumlah maksimal yang aman bagi gua dan sekaligus aman dan nyaman buat pengunjungnya.

Sekiranya kita perlu merumuskan bersama-sama seberapa besar daya dukung Luweng Jomblang untuk pengembangan masa yang akan datang.

Pemetaan masalah

Saya yakin, permasalahan Jomblang ’kalau bisa disebut masalah” sudah berlangsung sejak lama dan mungkin jauh sebelum Cahyo Alkantan mengembangkan Luweng Jomblang. (Lihat Quotes: Sunu Widjanarko)

Permasalahan apa itu, banyaknya kunjungan ke gua ini dari berbagai lapisan ’pegiat caving’dari yang seneng cuma uji nyali sampai yang ’sok terbebani’ dengan penelitian juga banyak. Namun sayangnya, saya tidak tahu persis berapa data pasti kunjungan ke Luweng Jomblang setiap bulan atau bahkan setiap minggunya.

Angka kunjungan inilah yang perlu diketahui agar kita bisa mengetahui pola atau kecenderungan jumlah pengunjung sekaligus mengetahui jumlah maksimum ataupun minimum pengunjung dalam satu bulan, minggu atau hari.

Banyaknya orang yang cuma uji nyali juga menjadi salah satu ”masalah” bagi Jomblang dan hutannya. Sudah beberapa tahun yang lalu, saya mendengar ada beberapa pohon yang sudah ”terpangkas’ atau rusak.

Selain itu, aktivitas penelusuran yang jauh dari standar keamanan pun pernah terjadi beberapa waktu lalu di Jomblang ini. Saya juga pernah menuliskan fenomena ini beberapa waktu lalu di sini.

Sehingga, kemungkinan perilaku-perilaku pengunjung yang seperti inilah yang bisa berkontribusi pada semakin menurunnya kualitas hutan alami di Jomblang.

Mungkin saatnya kita perlu bersama-sama untuk memetakan permasalahan dan mencari solusi bagaimana mengembangkan Jomblang agar bisa menjadi bermanfaat bagi gua itu sendiri , bagi pegiat caving di Jogja dan lebih luas Indonesia dan juga yang paling utama adalah bermanfaat untuk membantu peningkatan ekonomi masyarakat sekitar.

Jalan tengah pemanfaatan

Jumlah kunjungan

Tentu saja daya dukung bagi gua tidak hanya bisa dibatasi dengan jumlah orang setiap kunjungan tapi jauh dari itu, mungkin juga perlu ditentukan seberapa banyak dalam setiap bulan dan seberapa sering kunjungan itu dilakukan.

Tentu tidak cukup ’fair’ kalau setiap kunjungan taruhlah 25 orang dan di hari berikutnya 25 orang lagi dan ini terjadi dalam satu minggu. Tentu saja jumlah ini sangat membebabni Luweng karena setiap hari dikunjungi.

Gambaran itu sebagai hasil ”yang terbaik” sekiranya popularitas jomblang mulai mengundang banyak minat orang untuk berwisata.

Frekwensi

Namun kiranya, perlu juga dipikirkan jumlah maksimal dalam satu bulan, dalam minggu dan seklaigus frekwensi kunjungan sehingga bisa memberi waktu ”untuk vegetasi” berbenah atau membangun dirinya tanpa gangguan.

Pembangunan Fisik

Selain itu, penetapan atau pembuatan jalan setapak rasanya mutlak diperlukan tanpa harus menghilankan keaslian hutan. Batasan setapak juga harus jelas sehingga tidak ada orang atau pengunjung yang keluar dari ”jalur” sehingga merusak kondisi vegetasi dasar luweng.

Membangun pemahaman bersama

Kegiatan di Jomblang bukan hanya aktivitas segelintir orang untuk berwisata, melainkan tempat utk mengasah kemampuan teknis dan sebagai kawah candradimuka para pegiat caving di Yogyakarta dan sekitarnya. Pemahaman bersama perlunya menjaga kawasan Jomblang, khususnya dasar luweng menjadi tanggung jawab bersama. Sehingga, ulah segelintir orang yang merusak atau mengganggu keberadaan hutan di dalamnya dapat di minimalkan.

Tampaknya perlu diskusi lebih jauh untuk membahas bagaimana sebaiknya menyikapi kondisi Jomblang dan mencari pemahaman bersama sehingga Jomblang tetap bisa dinikmati dan tetap terjaga kelestariannya.

***********

Quotes

Sunu Widjanarko, salah satu sesepuh aktif di ASC juga menyampaikan beberapa opininya tentang bagaimana Jomblang bermetamorfosis dan mengkritisi bagaimana sikap kita dalam menyikapinya. Memang ada fakta Jomblang mengalami banyak perubahan dan gangguan yang itu tentu saja akumulasi dari aktivitas-aktivitas yang pernah dilakukan di Jomblang. Berikut petikan dari komentar Sunu Widjanarko dalam melihat Jomblang:

Saya nulis sedikit mengenai yang berhubungan dengan Luweng Jomblang. terutama apa yang telah dialami oleh luweng ini.

ASC beberapa kali mengadakan penelusuran gua untuk anggota barunya, ke luweng ini, sekalipun tidak setiap tahun. misalnya tahun 94, kami masuk gua itu dengan jumlah penelusur sekitar 13 orang.

Beberapa tahun sebelumnya (mungkn tahun 92), penelusuran secara massal juga dilakukan oleh Arisan Caving. mungkin ini pertamakali Arisan Caving mengadakan kegiatan lapangan bersama2. Saya tidak ikut, tapi bisa dikonfirmasikan ke senior2 kita.

Tahun 95, Arisan Caving untuk pertama kali mengadakan upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI di Luweng Jomblang. Saya lupa, berapa orang yang turun. Tapi pasti lebih dari 25 orang. dan akhirnya beberapa tahun berikutnya, kegiatan ini berulang lagi.

Gladian Nasional Pencinta Alam tahun 96, juga menurunkan banyak caver dari seluruh Indonesia ke luweng ini.

Dan tentu saja masih banyak kegiatan penelusuran massal di Luweng ini. termasuk pendidikan2 yang diadakan oleh Hikespi.

Jadi, saya kira mas Besten sudah melakukan penelitian yang tepat untuk dapat mengurai ketidak waspadaan caver oldies. pembelaan mas Besten, bahwa tidak menyerang satu organisasi tertentu, tetapi lebih merupakan ajakan untuk mencamkan akibat itu sudah tepat. masalahnya adalah banyak yang salah tompo.

Saya sendiri menyadari kesalahan2 itu setelah membaca buku mengenai pengelolaan gua. penulis buku yg saya baca itu sendiri juga menyadari betapa fatalnya aktifitasnya terhadap lnigkungan gua, akibat apa yang dikerjakannya beberapa tahun sebelumnya. tulisan mas Besten, yg merupakan hasil penelitiannya, seharusnya menjadi bahan berkaca bagi para penelusur gua.

Sedangkan saya sendiri merasa malu setelah membaca tulisan itu. karena saya juga berperan cukup besar atas kerusakan yang terjadi pada luweng Jomblang. sayayakin, kerusakan itu terjadi akibat aktifitas dalam kurun waktu yang lama, bukan “hanya” sejak dikelola oleh Cahyo Alkantana.

semoga apa yang saya sampaikan ini bisa menjadi bahan pengetahuan teman2. sehingga jika akan ada diskusi terbuka, bisa disampaikan ke peserta. kalau akan diadakan, insya Allah saya akan datang.

Mengenai lorong kelelawar. menurut senior saya, kelelawar di lorong itu menyusut drastis ketika pemerintah daerah berniat menjadikan luweng ini sebagai obyek wisata umum. langkah pertama mereka, adalah menurunkan balok2 beton yang akhirnya kita jadikan jalan dari jomblang ke grubuk. mereka menurunkannya menggunakan crane (atau alat sejenis). fondasi crane itu masih ada di sisi barat, ketika saya pertama kali mengunjungi luweng ini.

karena aktifitasnya dilakukan siang hari dan dalam jangka waktu lama, maka kelelawar di lorong ini pun pergi. mungkin ini juga yang mengakibatkan meledaknya populasi belalang di wilayah ini. tetapi, saya masih merasakan adanya kelelawar di lorong ini ketika pertama kali masuk ke gua ini. meskipun tinggal beberapa. kalau Cahyo Alkantana benar2 mengusahakan agar gua ini kembali seperti ke kondisi semula, saya kira cukup berat. karena, itu berarti bahwa tidak boleh ada aktivitas, paling tidak, di siang hari di lorong tersebut.

Bacaan:

  1. Pusat Penelitian Biologi LIPI (2006) Gunung Sewu 2006, Laporan Perjalanan KSK 212 Inventarisasi Dan Karakterisasi Biota Karst Peg. Sewu Dan Sulawesi. Cibinong
  2. Matalabiogama (1992) Inventarisasi Pteridophyta du Luweng Jomblang dan Luweng Goplak Kabupaten Gunung Kidul. Laporan Penelitian. Fakultas Biologi UGM. Yogyakarta.
  3. Matalabiogama (1989) Analisa vegetasi Luweng Jomblang dan Inventarisasi Tanaman Luwen Goplak. Laporan. Fakultas Biologi UGM. Yogyakarta
  4. Dolu, J. (1989) Distribusi populasi Collembola permukaan tanah di dasar Luweng Jomblang, Kecamatan Semanu, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Fakultas Biologi UGM. Seminar.
  5. Sahalo, M. A. (2000) Kecepatan fotosintesi dan kadar klorofil daun Dryopteris sp dan Heterogonium sp. di dasar Gua Jomblang, Gunung Kidul, DIY. Fakultas Biologi UGM. Skripsi.
Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: