Skip to content

Keajaiban Kecil dari Gua Indonesia

August 2, 2011

Udang Stenasellus dari Sukabumi

National Geographic Indonesia, September 2007

Louis Deharveng tak banyak bicara. Ahli biologi sekaligus penelusur gua asal Prancis ini tengah sibuk mengeluarkan barang-barang, sendok plastik kecil, penyaring teh, dan kuas gambar, dari dalam tas pinggangnya.

Sementara kedua tangannya bekerja, pandangan Deharveng tetap melekat pada genangan air yang berada di hadapannya. Dengan gerak perlahan, ia jongkok dan membungkukkan postur setinggi 195 sentimeter dan kemudian mulai mendekati permukaan air.

Sendok kecil di tangan kanannya dimasukkan ke dalam air hingga dasar genangan dan tangan kirinya memegang penyaring teh. Hanya dalam hitungan menit, sendok itu telah berisi: seekor hewan, penghuni dasar genangan yang belum diidentifikasi. Ia lalu mengangkat sendok perlahan-lahan dan memasukkan hewan itu ke dalam botol putih yang telah kami siapkan sebelumnya.

Deharveng pun tersenyum saat saya mengagumi makhluk yang bentuknya mirip dengan udang yang baru saja ia dapatkan dari sekitar mulut Gua Saripa yang berada di  antara  menara – menara putih menjulang bermahkota hijau dari pepohonan di kawasan karst Maros, di tepi jalan poros Makassar – Bone, Sulawesi Selatan.

Pada tahun 2001, saya menemani Deharveng dan menjadi saksi atas penemuan salah satu keajaiban kecil yang ditampilkan oleh para penghuni sudut-sudut tak bercahaya di dalam perut liang-liang kapur Nusantara, seperti berbagai penemuan baru yang dikisahkan Kevin Krajick dari Taman Nasional Sequoia, California.

Identifikasi lanjutan yang dilakukan kolega Deharveng dari Belanda akhirnya menyimpulkan bahwa troglobit temuan itu adalah  anggota isopoda khas gua air tawar ketiga yang dikenal di kawasan Pasifik.

Diberi nama pada tahun 2003, sesuai dengan tempatnya ditemukan Cirolana marosina, ia memiliki tubuh berwarna putih yang memucat dengan panjang sekitar 10 mm, antena yang cukup panjang dan mata yang telah menghilang.

Proses adaptasi yang panjang telah menyebabkan troglobit itu memiliki morfologi yang aneh dan amat bergantung pada lingkungan gua serta tak mampu hidup di luar habitat gua.

Salah satu lorong Gua Saripa juga menjadi rumah bagi beberapa jenis udang lainnya, yang populasinya cukup berlimpah. Terbentuk dari aliran air yang meresap melalui celah bebatuan, genangan yang terdapat di lorong tersebut telah menuntun kami untuk menemukan udang dengan nama marga baru: Marosina longirostris dan Marosina brevirostris.

Hewan ini membuat saya mengerti mengapa ia dan kerabatnya dalam marga itu mampu bertahan hidup di dalam gelap. Merenangi sistem air di bawah tanah, udang itu menggunakan antena yang sangat panjang, bahkan panjangnya dapat mencapai sepuluh kali panjang tubuh, untuk mengendus makanan pada habitat yang miskin pangan.

Kelebihan itu yang menutupi kekurangannya, tak memiliki organ penglihatan.Berjalan lebih ke dalam, Deharveng menunjukkan kepada saya seekor kumbang khas gua di dalam batang bambu yang lapuk. Kumbang tersebut saat ini dikenal dengan nama Eustra saripaensis yang hanya ditemukan di Gua Saripa. Selain itu, ekor pegas yang hanya berukuran 2 mm ditemukan di permukaan lantai gua dan diberi nama Pseudosinella maros

Di gua yang lain, Deharveng menunjukkan kepiting gua khas Maros, Cancrocaeca xenomorpha. Hewan ini memiliki kaki-kaki yang sangat panjang, tidak bermata  dan warna tubuh putih yang memucat. Deskripsi pertama kali pada tahun 1991 yang dilakukan oleh taksonom kepiting dari Singapura, Peter Ng.

Bagi saya, ia lebih pantas dianggap sebagai laba-laba dari kegelapan dibandingkan disebut kepiting. Peter Ng memberikan nama hewan itu yang bermakna kepiting buta  berbentuk aneh. Ia mulanya hanya diketahui menghuni gua-gua di wilayah Maros, namun akhir-akhir ini kerabatnya juga ditemukan di Pulau Muna dan di Gua Louwading kawasan karst Sangkulirang di Kalimantan Timur.

Bahkan, temuan di wilayah Sangkulirang telah menambahkan bukti kepada para peneliti bahwa pada masa lalu Sulawesi Selatan pernah bergabung dengan daratan Kalimantan.

Yayuk R. Suhardjono, profesor sekaligus peneliti troglobit dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menemukan keajaiban lain yang hidup di dalam salah satu liang kawasan karst Sangkulirang. Memiliki panjang tubuh lebih dari tujuh sentimeter, tergolong raksasa dibandingkan temuan troglobit lainnya, kecoak Miroblatta baai justru menampakkan sikap yang cenderung pasif dan relatif kalem.

Saya sangat terkesan dengan kecoak itu. Dia sangat jinak saat saya pegang padahal tubuhnya kaku dan keras,” ujar Yayuk yang menemukan dan mengoleksi hewan itu untuk pertama kali pada tahun 2004.

Belum habis kekaguman Yayuk, sang kecoak menunjukkan perilaku lainnya: selalu ditemukan berpasangan. Selain merupakan bentuk kesetiaan makhluk gua, hal tersebut menjelaskan bagaimana mereka menggunakan energi dengan sangat efisien, termasuk dalam urusan reproduksi.

Beberapa penelitian berhasil mengungkap pula bahwa mereka mampu bertahan selama bertahun-tahun hanya dengan persediaan makanan yang minim dan dalam kondisi lingkungan gua yang keras.

Salah satu jenis laba-laba dari bangsa Amblypygi yang menghuni lorong gua di Sangkulirang juga memanfaatkan organ perasa dalam hidup. Ia mempunyai mata yang mengecil dibandingkan kerabat dekatnya dengan tubuh berwarna pucat.

Kaki paling depan telah termodifikasi menjadi semacam antena, yang terdiri dari berpuluh-puluh ruas yang dilengkapi rambut-rambut halus untuk menerima rangsangan fisik maupun kimia.

Salah satu anggota bangsa Amblypygi, dinamakan Stygophrynus, laba-laba ini termasuk jenis hewan yang telah mengalami adaptasi dalam gua dengan kemampuan mendeteksi keberadaan mangsa melalui cara memanjangkan antena sejauh mungkin. Gerakan sedikit saja telah mampu dideteksi yang merupakan tanggapan terhadap satu ancaman atau gangguan.

Lorong sempit gua Cikaray di kawasan karst Cibinong, Jawa Barat tak menyisakan ruang gerak dan udara yang cukup bagi saya dan beberapa rekan penelusur gua. Tiga tahun lalu, dengan tubuh berbalut endapan gua, saya secara tidak sengaja  menemukan genangan berlumpur yang ukurannya tidak lebih besar dari telapak tangan orang dewasa.

Dalam pandangan sekilas tak ada kehidupan dalam habitat alami itu. Namun, saya memeriksa dengan seksama dan muncullah dua individu yang bentuknya seperti udang di bagian dasar genangan.

Saya hampir memastikan hewan itu belum dikenal sebelumnya dan menjadi jenis temuan baru, sebab sebelumnya tak ada catatan yang mengatakan bahwa udang ini ditemukan di tanah Jawa.

Salah seorang ahli taksonomi Stenasellus dari Prancis, Guy Magniez membantu saya mengidentifikasi temuan ini. Jenis udang air tawar ini berukuran 7 milimeter dengan warna tubuh putih kemerahan. Melalui identifikasi selama dua tahun, makhluk gua itu akhirnya mendapatkan nama jenis Stenasellus javanicus, yang masuk ke dalam Bangsa Isopoda, Asellota, dan Famili Stenasellidae.

Temuan tersebut tampaknya kembali menyisakan misteri bagi para peneliti dalam mengungkap kisah troglobit Indonesia. Menjelajahi relung gelap bersama beberapa peneliti dari LIPI, saya kembali menemukan jenis dari marga Stenasellus di Gua Buniayu, di Sukabumi pada Februari lalu.

Saya kembali berdiskusi dengan Guy Magniez dan kami menarik kesimpulan awal: udang itu berbeda dengan jenis yang ditemukan di Cibinong.

Alasan tersebut berlandaskan pada umur batu gamping Sukabumi yang lebih tua dibandingkan kawasan karst Cibinong. Karst Sukabumi diperkirakan terbentuk pada masa Oligo-Miosen, sekitar 20 juta tahun silam, kemudian terangkat dan membentuk lorong-lorong gua, yang menjadi tempat tinggal berbagai jenis hewan, termasuk udang Stenasellus.

Sementara itu, bukit-bukit kapur Cibinong terbentuk pada masa Miosen atau sekitar 12 juta tahun silam. Apabila kita lihat dari segi ketinggian pun kedua tempat itu sangat berbeda.

Gua Buniayu mempunyai ketinggian sekitar 800 meter dari permukaan laut (mdpl), yang diperkirakan merupakan gua tertinggi di Jawa, sedangkan ketinggian gua di Cibinong hanya berkisar pada angka 200 mdpl.

Berdasarkan faktor-faktor pembatas yang begitu besar, saya dan Magniez memastikan kedua jenis Stenasellus itu terisolasi dan mengalami perkembangan evolusi yang terpisah.

Memiliki luas total 15,4 juta hektare, kawasan karst Indonesia masih menyimpan troglobit-troglobit yang belum terdeskripsi. Saya baru mencatat 50 jenis hewan khas gua yang telah selesai deskripsinya hingga saat ini.

Penelitian terhadap gua-gua di kawasan karst masih sangat sedikit, tidak lebih dari 1/10  jumlah total gua yang pernah dieksplorasi. Setiap kali eksplorasi di lokasi baru hampir separuh dari hewan gua yang dikoleksi merupakan catatan baru bahkan temuan baru bagi ilmu pengetahuan.

Kondisi populasi yang sangat kecil, kemampuan toleransi yang sangat sempit, kemampuan menyebar yang sangat rendah dan daya reproduksi yang rendah menjadikan hewan gua sangat rentan terhadap kepunahan. Ancaman-ancaman kehidupan mereka datang dari berbagai sumber, dari pencemaran, penebangan hutan, penggalian, kegiatan industri, dan vandalisme.

Semua kehidupan di dalam gua sangat bergantung dengan keadaan di atasnya. Karena itu Apapun yang terjadi di permukaan tanah akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan gua,” kata Yayuk mengungkapkan keprihatinannya.

Udang air tawar yang saya temukan di gua kapur Cikaray, Cibinong jaraknya hanya dua kilometer dari lokasi penambangan untuk industri semen dan berada dekat ladang penduduk.

Karst Cibinong meliputi kawasan 700 hektare, dan 160 hektare di antaranya menjadi sumber penambangan bagi dua raksasa industri semen. Kondisi yang sama juga mengancam kawasan karst Maros, yang menjadi lokasi kegiatan penambangan marmer dan industri semen.

Kegiatan yang mengancam itu telah mendukung laju kepunahan para troglobit Indonesia, bahkan ada yang belum sempat ditemukan dan deskripsi lanjutan. Saya pernah mencoba untuk melakukan pencarian kembali udang Cirolana marosina di Gua Saripa, di kawasan karst Maros, tempat yang sama saat Louis Dehaveng menunjukkan hewan itu kepada saya pada tahun 2001.

Sayang, upaya tersebut tak pernah berhasil, terlebih udang air tawar Maros itu hanya hidup di genangan air musiman yang setiap musim kemarau menyusut airnya. Di saat yang sama, aktivitas penelusuran gua sangat tinggi sehingga memungkinkan udang jenis ini punah karena terganggunya habitat. Apabila mendengar kabar buruk itu, boleh jadi Dehaveng takkan  kembali tersenyum kepada saya.

Apalagi dengan makin meningkatnya tekanan pada kawasan karst yang tersebar di pulau-pulau di Indonesia. Kepunahan hewan gua hanya menunggu waktu seandainya tidak ada upaya yang nyata untuk melestarikan karst dan ekosistem guanya.  Upaya eksplorasi yang lebih intensif terhadap hewan gua yang masih tersembunyai di kegelapan perut bumi pun masih perlu dilakukan.

Alangkah nikmatnya jika  kita bisa menjaga gua dan segenap penghuni di dalamnya. Kelestarian karst dan gua adalah segalanya.

*****************

Catatan:

Tulisan in terbit di Majalah National Geographic Indonesia pada bulan September 2007
Terima kasih buat Mas Bayu dan Mas Tantyo Bangun atas kerjasamanya untuk menyusun tulisan ini.

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: