Skip to content

Tak ada tempat bagi peneliti Indonesia di media

August 29, 2011

Ilustrasi

Hal ini berawal dari hasil penelitian kerjasama antara LIPI dan UC DAVIS di Mekongga yang menghasilkan temuan tawon dengan “rahang” yang sangat kekar.

Dalam publikasi diluar, Lynn Kimsey menyatakan bahwa temuan menarik ini hasi kerjasama penelitian dengan 12 peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang telah beberapa kali melakukan kegiatan penelitian dengan dibantu teman-teman pecinta alam Chitaka.

On the last three-week expedition, the UC Davis team of Lynn Kimsey, husband Robert Kimsey, a forensic entomologist/adjunct professor in the UC Davis Department of , and Alan Hitch, assistant curator of the Museum of Wildlife and Fish Biology, met up with 12 scientists from the Indonesian Institute of Sciences (LIPI).

The 67-member expedition also included 12 members of Kendari’s Chitaka mountaineering group, which guides mountain climbers to the top of the 9,117-foot volcanic peak; and a 40-member porter team that carried the equipment, set up camp and cooked the food, “which was steamed rice and ramen noodles three times a day,” she said. (Physorg.com)

Dalam publikasi itu jelas peran peneliti Indonesia, pecinta alam kendari dan orang lokal dalam keberhasilan melakukan penelitian. Publikasi itu salahsatunya ada disini.

Sementara, di kompas.com tentang Monster Garuda yang diambil dari DailyMail co.uk tidak sedikitpun memberi ruang pada peneliti Indonesia dan bagaimana ketelibatan LIPI dalam kerjasama penemuan ini.

Melihat komentar para pengunjung, sungguh sangat sedih. Sebagai salah satu peneliti di LIPI dengan membaca komentar-komentar di artikel itu seperti tidak dihargai sama sekali meskipun hal itu tidak sebenarnya terjadi.

Kompas.com memang tidak menyinggung sama sekali peran LIPI sehingga wajar kalau LIPI dihujat habis-habisan bersama lembaga dan universitas lain.

Mungkin ini lah bentuk apresiasi media bagi kita para peneliti Indonesia tidak ada tempat untuk kita diberi ruang diapreasiasi dengan kerja yang kadang berujung maut.

Namun kita, para peneliti, juga perlu introspeksi untuk melihat kejadian ini secara positif yakni masih banyak masyarakat yang berharap banyak dari para peneliti Indonesia dan peran LIPI begitu dibutuhkan untuk menangani hal-hal temuan menarik seperti ini. Berarti, masih ada tempat di masyarakat peran peneliti dan kita mungkin yang harus menjangkau mereka kita mendatangi masyarakat dengan membawa apa yang kita peroleh dan hasilkan dengan uang mereka.

Mungkin kita perlu berbenah dan sekali lagi media hendaknya bisa lebih proporsional dengan tidak hanya bekerja berdasar Google atau informasi-informasi dari media luar.  Namun juga perlu konfirmasi kepada lembaga yang relevan dengan hal itu.

Karya peneliti Indonesia ada, namun kita belum cukup diberi tempat di media.

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: