Skip to content

Memburu Kepiting gua (Karstarma sp.) di Malang Selatan

October 25, 2011

Karstarma sp, kepiting gua dari Malang Selatan (Foto C. Rahmadi)

Sebenarnya, cerita ini bermula ketika suatu saat ada acara TV yang menayangkan kegiatan penelusuran gua di salah satu gua di Malang. Saya lupat tepatnya di stasiun TV mana, tapi yang jelas ada proses menuruni mulut gua vertikal dengan menggunakan SRT Set.

Kemudian, dalam satu adegannya kamerawan menangkap kenampakan kepiting yang sedang berlari di lorong gua yang berlumpur. Dari cara berlarinya, saya ingat dengan salah satu jenis Kepiting jacobson yang hanya ada di gua-gua di Gunungsewu.

Saya lupa persisnya gua apa dan dimana gua tersebut. Sejak saat itu, Malang Selatan masuk dalam Target Operasi yang harus saya kunjungi terutama gua yang menyimpan kepiting yang saya duga dari marga Karstarma yang sudah beberapa kali saya berhasi mengkoleksi jenis-jenis baru.

Pada tahun 2007 dan 2008, saya tidak berkesempatan untuk mengunjungi Malang meskipun waktu itu saya sempat berkeliling Jawa sampai di Madura, tapi Malang tetap menyisakan ruang kosong yang saya tidak tahu benar seluk beluk fauna gua yang ada di dalamnya.

Saya berdiskusi dengan ahli udang dan kepiting dari museum yaitu Dr. Daisy Wowor yang selama ini bersama-sama ke lapangan untuk mencari udang. Jika keberadaan kepiting Karstarma di Malang terkonfirmasi, akan menjadi satu catatan yang menarik karena selama ini hanya dikenal satu jenis Karstarma dari gua yaitu Karstarma jacobsoni yang hanya ditemukan di Gunungsewu. Selain itu juga ada jenis dari Bali yang saya pikir jaraknya masih cukup jauh dari Malang.

Mengunjungi Malang

Akhirnya, pada tanggal 3 Oktober 2011, saya bersama dua kolega sekaligus sahabat saya Sigit Wiantoro dan Hari Nugroho meluncur ke Malang menggunakan kereta Gajayan dari Stasiun Tugu, Yogyakarta.

Setelah hampir 7 jam di dalam kereta akhirnya kita sampai di Malang dan bertemu dengan teman-teman IMPALA UNIBRAW, terutama Mas Roim atau nama aslinya Imron Fauzi setelah sebelumnya saya berkomunikasi dengan beliau menggunakan twitter.

Akhirnya kita memutuskan untuk berangkat ke lokasi di kecamatan DOnomulyo siang hari dan memasuki beberapa gua yang ada di sana.

Menyusuri jalan berbatu

Untuk memburu kepiting ini sebenarnya cukup melelahkan dan saya sempat putus asa karena ada beberapa hal yang membuat semua nampak berat.

Beberapa gua yang sebelumnya saya kunjungi, yaitu Gua Siem dan Gua Lo dan Bangi tidak ditemukan kepiting dari kelompok ini. AKhirnya, masih ada harapan yang menurut mas roim, gua yang di acara TV tersebut adalah Gua Lowo.

Gua Lowo adalah gua terakhir yang akan kita kunjungi sekalian kita akan pulang ke Malang. Jadi kita meluncur dari Basecamp di dekat Gua Siem sore hari sekitar jam 16.30.

Perjalanan yang cukup panjang membuat saya sedikit hilang harapan, karena kita harus menembus gelap hutan milik perhutani untuk menuju gua dengan jalan berbatu dan tanah.

Lupa arah

Di sore hari sekitar jam 6 yang sudah cukup gelap selepas rumah terakhir, Mas Roim mengendarai panther yang membawa kita menembus gelap hutan. Maya dan Baehaqi dari IMPALA yang menemani kita menjadi penunjuk jalan.

Mereka berdua sempat lupa hingga kita terlewar beberapa puluh meter dari jalan masuk menuju gua.

Karena merasa disorientasi, akhirnya kita kembali dan mencari tempat yang nyaman untuk STOP-e (Sit Think Observe and Plan also Eat) sambil menikmati tape singkong dan gorengan yang kita beli di jalan sebelum masuk ke jalan batu.

Akhirnya, Maya dan Bae berjalan kaki ke arah desa untuk mencari jalan masuk. Saya dan Sigit juga melakukan hal yang sama di arah yang berbeda. Sementara Mas Roim dan Hari menunggu di mobil sambil orientasi.

Hari kian malam, jam di tangan sudah menunjukkan pukul 7.20 malam dan kita harus memperhitungkan karena kita harus kembali ke malam itu juga.

Saya sudah berpikir, sekiranya Maya dan Bae tidak menemukan jalan masuk lebih baik kita kembali ke Malang saja agar tidak terlalu larut sampai di sana.

Akhirnya, Maya dan Bae kembali ke mobil dan menemukan jalan menuju Gua Lowo. Setelah itu, kita menuju ke jalan masuk dan akan diputuskan di sana ketika saya dan Sigit tahu kondisi medan.

Menyusuri jalan di tengah hutan, akhirnya saya dan Sigit putuskan untuk masuk meskipun kita dibatasi oleh waktu. Saya diskusi dengan Sigit, kalau bisa sebelum jam 09.00 malam kita sudah meluncur ke Malang.

Masuk Gua Lowo.

Maya dan Bae berjalan di depan untuk menunjukkan jalan menuju mulut gua. Waktu itu, saya hanya perlu tahu mulut gua ada dimana. Akhirnya setelah sampai mulut gua, Sigit dan saya memutuskan untuk masu dan mengkoleksi dengan waktu yang ada.

Sigit menyusuri lorong fosil untuk mencari kelelawar, sementara saya mencara apapun hewan berkaki yang bisa saya koleksi. Ada laba-laba yang saya duga dari marga Heteropoda dan juga kalacemeti dari marga Sarax yang hampir sama dengan yang ditemukan di dua gua lainnya.

Setelah koleksi beberapa spesimen, saya dan sigit menuruni lorong gua menuju lorong yang lebih bawah yang ada aliran sungainya. Dari situ, kita melihat ada beberapa hewan seperti kumbang Carabidae dan Isopoda di lantai gua.

Di sela ornamen tampak ada kepiting putih yang saya cari-cari selama ini. Setelah itu, saya koleksi satu spesimen dan di tempat lain masih ada beberapa kepiting yang bersembunyi di celah batu dan lumpur.

Kepiting Karstarma

Setelah memegang dan mengkoleksi kepiting tersebut, saya baru yakin bahwa kepiting ini adalah kepiting dari Marga Karstarma yang selama ini membuat saya penasaran untuk mengunjungi Malang.

Kepiting yang selama ini di Jawa yang hanya di kenal di Gunungsewu dan merupakan jenis kepiting yang mempunyai moyang dan kerabat hidup di air laut dan payau namun sukses menyesuaikan diri hidup di gua-gua dengan air tawar seperti di Gunung Sewu dan juga Malang Selatan ini.

Saya yakin kepiting ini berbeda dengan kepiting yang sudah dikenal sebelumnya, dan saya yakin Dr. Daisy Wowor akan senang dengan apa yang kita peroleh malam itu dari hutan di pesisir selatan Malang.

Kembali ke Kota Malang

Setelah itu, sebelum jam sembilan kita sudah meluncur menembus malam menuju Malang, saya sudah cukup lelah setelah dihajar menyusuri Gua Lo-Bang yang berlorong pendek dan berair serta harus berjalan jongkok.

Setelah sebelumnya harus menuruni lorong Gua Siem yang memmpunyai oksigen tipis sehingga napas pun berbunyu seakan seperti kuda sedang menarik delman. Belum kepala yang pusing dan tertekan, dan Oxican pun menjadi senjata andalan untuk mengantisipasi itu semua.

Perjalanan panjang menyusuri jalan berkelok tak terasa karena hampir semua ketiduran kelelahan kecuali Mas Roim yang tetap harus memegang kemudi Panther menuju Malang.

**

Catatan:

Terima kasih buat teman-teman di Malang dan keluarga besar IMPALA UNIBRAW khususnya pak Ketua Impala, Maya, Bae, Hamid dan teman-teman lain dan tetua Impala seperti Mas Muchsin, Mas Bambang dan Mas Roim atas waktu dan keramah-tamahan menghadapi kita yang bawel dan merepotkan ini. Semoga bermanfaat buat kita semua.

Terima kasih, Salam Speleo..

Advertisements
2 Comments leave one →
  1. December 20, 2012 10:54 pm

    gua-gua yg di atas tempat saya biasa bermain

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: