Skip to content

Kepiting Jacobson, kepiting endemik Gunungsewu

June 17, 2013
FA4_resize

Kepiting jacobson yang sedang merayap di lantai gua di salah satu gua di Gunungsewu

Di lorong gua yang berlumpur, dengan lubang-lubang sisa jejak kaki para penelusur gua yang berisi air, tampak beberapa ekor kepiting terdiam di tepi genangan. Kepiting berwana putih pucat dengan kaki yang memanjang ini seakan menikmati kegelapan gua. Satu ekor kepiting tampak berendam di dalam genangan yang bersubstrat lumpur. Sementara, di gundukan lumpur di sudut yang lain, tampak seekor kepiting berlari dengan kaki-kakinya yang panjang sambil seakan mengangkat badannya dengan gesit.

Itulah kepiting jacobson yang pertama kali ditemukan di Gua Jomblang di daerah Bedoyo oleh seorang Naturalis Belanda, Edward Jacobson. Kepiting yang memiliki mata yang sudah mengecil ini untuk pertama kalinya dikenalkan ke dunia ilmu pengetahuan oleh Ihle pada tahun 1912 di  jurnal Notes Leyden Museum dengan nama Sesarma jacobsoni.

Selain dari Gua Jomblang, Edward Jacobson juga mengkoleksi dari Gua Ngingrong yang ada di daerah Mulo. Kemudian, seiring perjalanan penelitian biospeleologi gua di Gunungsewu, beberapa catatan temuan di beberapa gua semakin bertambah seperti Gua Gilap, Gua Jurang Jero dan gua-gua lain yang tersebar di Gunungsewu khususnya Kabupaten Gunungkidul.

Sekilas taksonomi

Kepiting Jacobson untuk pertama kali dikenalkan dengan nama Sesarma jacobsoni oleh Ihle pada tahun 1912. Kemudian, jenis tersebut dimasukkan ke dalam marga Sesarmoides menjadi Sesarmoides jacobsoni. Seiring perkembangan dan pengetahuan taksonomi kepiting ini, pada tahun 2007 secara resmi kepiting Jacobson dan beberapa jenis kepiting lain dimasukan ke dalam marga baru yaitu Karstarma yang diperkenalkan oleh Ng dan Davie yang terbit jurnal Raffles Bulletin of Zoology.

Marga Karstarma merupakan pecahan dari marga Sesarmoides karena memiliki beberapa karakter pembeda yang khas diantara dua marga tersebut. Salah satunya, kedua marga mempunyai pilihan habitat yang sangat berbeda. Ng dan Davie (2007) menyebutkan bahwa marga Sesarmoides banyak ditemukan hidup di kawasan pantai dan bakau, sedangkan Marga Karstarma lebih banyak ditemukan di kawasan karst khususnya di gua-gua di dekat pantai atau bahkan jauh dari pantai seperti kepiting Jacobson ini.

Kepiting Jacobson secara taksonomi masuk dalam Marga Karstarma dalam lingkup Suku Sesarmidae di bawah bangsa Brachyura. Selain kepiting Jacobson, beberapa jenis ditemukan di pulau-pulau di Indonesia seperti Nusa Penida (Karstarma emdi dan Karstarma balicus), Ambon (Karstarma cerberus), Sulawesi (Karstarma microphthalmus), dan Waigeo (Karstarma waigeo dan Karstarma ardea)

Kepiting dari laut

Kepiting Jacobson merupakan salah satu kepiting yang mampu menyesuaikan diri untuk hidup di lingkungan gua yang khas. Kepiting ini telah menunjukkan beberapa ciri tubuh yang khas gua seperti warna tubuh yang putih pucat, mata mengecil dan tungkai yang relatif panjang. Mereka juga telah mampu untuk hidup dengan kondisi lingkungan yang minim makanan, tidak seperti lingkungan luar gua yang kaya oleh berbagai sumber energi.

Kepiting Jacobson konon merupakan salah satu kepiting yang mempunyai nenek moyang berasal dari laut atau lingkungan yang berair payau. Kerabat dekatnya, dari marga Sesarmoides dicirikan memiliki tempat hidup di hutan bakau yang berair payau. Sementara kelompok Karstarma, salah satunya kepiting Jacobson mampu hidup di air tawar yang tempatnya jauh dari laut. Sebagai contoh, kepiting ini ditemukan di ketinggan sekitar 300 mdpl. yaitu di Gua Gilap yang letaknya sekitar 30 km dari tepi laut. Kemampuan untuk menyesuaikan diri hidup di dalam gua sekaligus di air tawar merupakan keunikan sendiri dari jenis kepiting Karstarma

Ahli panjat

Kepiting Jacobson merupakan salah satu kepiting yang ahli memanjat. Di Gua Ngingrong, Mulo, mereka ditemukan hidup di celah-celah yang ada di lorong vertikal yang lembab. Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya di dinding gua yang curam tanpa jatuh. Selain sebagai pemanjat, kepiting Jacobson juga merupakan pelari yang cepat dan lincah, dengan kaki yang panjang namun kekar mereka berlari untuk bersembunyi jika merasa terancam karena adanya gangguan. Mereka mampu berlari dengan cepat di berbagai media, dari batuan sampai lumpur tebal yang becek.

Hidup di air suci

Kepiting Jacobson merupakan salah satu kepiting unik yang hanya ditemukan di sungai bawah tanah di karst Gunungsewu khususnya di Kabupaten Gunungkidul. Mereka banyak hidup di genangan air yang berasal dari rembesan atau tetesan air dari dinding maupun langit-langit gua. Mereka jarang ditemukan hidup di aliran sungat utama yang airnya banyak tercemar oleh aktifitas manusia dari luar gua. Kondisi habitat yang unik dan khas ini meningkatkan ancaman serius mengingat mereka memiliki kisaran toleransi yang sempit terhadap perubahan lingkungan khususnya tempat hidupnya. Genangan-genangan di dalam gua juga relatif terbatas ketersediannya sehingga jika terjadi kehilangan habitat, kepiting Jacobson akan menghadapi ancaman yang serius terhadap kelangsungan populasinya di kawasan karst Gunungsewu.

Kepiting endemik, penciri sistem sungai bawah tanah

Kepiting Jacobson merupakan salah satu kepiting endemik yang hanya ditemukan di gua-gua di karst Gunungsewu khususnya di Gunungkidul. Mereka tidak ditemukan di tempat lain di muka bumi ini. Mereka relatif mempunyai sebaran yang sangat terbatas dan hanya di gua-gua tertentu. Berdasarkan hasil laporan dan koleksi beberapa gua di Gunungsewu, kepiting Jacobson sampai saat ini banyak ditemukan di gua-gua yang berhubungan dengan Sistem Sungai Bawah tanah Gua Bribin seperti Gua Gilap, Luweng Jurang Jero, dan Gua Jomblang. Gua-gua tersebut diyakin memiliki bukti kuat merupakan bagian dari sistem Gua Bribin. Namun, selain di gua-gua yang sudah terbukti memiliki hubungan dengan Gua Bribin, kepiting ini juga ditemukan hidup di gua yang belum diyakini memiliki hubungan dengan system Gua Bribin seperti Gua Ngingrong.

Mengingat kepiting Jacobson memiliki sebaran yang sangat terbatas dan hanya tersebar dengan adanya air, apakah temuan di beberapa gua yang belum diketahuin dalam sistem Gua bribin dapat menjadi salah satu indikasi adanya hubungan system perguaan. Sehingga dari temuan-temuan kepiting Jacobson di beberapa gua dapat dijadikan penciri bahwa gua-gua tersebut diduga termasuk dalam sistem perguaan Gua Bribin.

Mengapa penting?

Keberadaan kepiting Jacobson di Karst Gunungsewu menjadi sangat penting ketika berkaitan dengan sistem sungai bawah tanah yang penting bagi kehidupan masyarakat yaitu Gua Bribin. Sistem Gua Bribin merupakan salah satu sistem besar yang saat ini sudah dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat khususnya untuk ketersediaan air bersih.

Selain itu, mereka juga hidup di habitat yang unik yaitu air perkolasi. Menjaga keberadaan kepiting Jacobson juga akan sekaligus menjaga kelestarian sistem Gua Bribin dan gua-gua lain sehingga terjamin kelangsungan ketersediaan air bersih yang diambil dari sana.

Sebagai kepiting endemik, mereka memiliki sebaran yang sangat terbatas dan hanya ditemukan di Gunungkidul bahkan mereka tidak ditemukan di Wonogori dan Pacitan yang masih dalam satu kawasan karst Gunungsewu. Dengan ini, Gunungkidul dapat berbangga dengan cara menjadikan kepiting Jacobson menjadi maskot atau fauna identitas Gunungkidul. Dengan cara ini, mungkin mereka akan terjaga kelestariannya dan sekaligus menjaga sistem perguaan yang menjadi tempat hidup mereka dan juga menjadi tandon ketersediaan air bersih bagi masyarakat.

Semoga, kepiting Jacobson tetap terjaga kelestariannya dan habitatnya sehingga menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Gunungkidul.

Pustaka

Davie, P.J.F. & Ng, P.K.L., 2007. A new genus for cave-dwelling crabs previously assigned to Sesarmoides (Crustacea: Decapoda: Brachyura: Sesarmidae). Raffles Bulletin of Zoology, Supplement, pp.227–231.

Ihle, J.E., 1912. Ueber eine kleine Brachyuren-Sammlung aus unterirdischen Flussen von Java. Notes Leyden Museum, 34, pp.177–183.

Rahmadi, Cahyo .2011.Kepiting Jacobson, maskot Gunungsewu Yang Terabaikan, dalam Rusmanto, Edi dkk. (eds.) Ekspedisi Geografi Indonesia Karst Gunungsewu 2011. Bakosurtanal. Cibinong. ISBN. 978-602-8408-15-8. Hal. 56-57i

Catatan: tulisan ini adalah versi asli dari tulisan yang terbit di Bulletin BKSDA Yogyakarta

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: