Skip to content

Separuh bukit karst, hilang kurang dari setahun

October 19, 2013

Tampak lubang di tebing yang terkupas menganga di dekat pertigaan Bedoyo, Gunungkidul. Konon, tebing sisa kerakusan begu ini sudah ditinggalkan oleh para penambang. Bukit kapur yang berbentuk “conical hills” ini sudah separuh terkupas.

“Gunung ini belum setahun mas ditambang, belum lama kok”, seorang ibu pemilik warung menjawab pertanyaan kami ketika berbincang di Bedoyo Kamis (17/10) lalu.

Belum setahun, tapi sudah menghasilkan kerusakan yang luar biasa, begitu rakusnya mesin-mesin pengeruk bukit itu.

Bisa dibayangkan berapa bukit akan hillang dalam 10 tahun mendatang jika kurang dari dua tahun hilang satu bukit kapur,

“Bagian bukit yang ditambang itu milik kas desa mas”, seorang bapak yang mendekati kami menimpali diskusi kami dengan ibu pemilik warung.

“Kalau yang sebaliknya, itu milik masyarakat tapi mereka nggak mau jual”, si bapak melanjutkan omongannya.

Si ibu pemilik warung juga menambahkan kalau penambang sudah pindah ke bukit yang tidak jauh dari situ.

Nilai satu bukit atau tiap lokasi tambang berbeda-beda dan tidak tentu. Ada yang dihitung setiap jumlah truk yang keluar ada yang dipatok harganya tergantung penjual bukit. Namun konon tidak pernah besar mencapai 50 juta. Namun entahlah, karena pemilik tambang banyak dari orang luar, dan masyarakat hanya pekerja.

Menantang
Dahulu, para penambang banyak mengikis bukit-bukit kapur yang jauh dari pinggir jalan besar sepanjang Wonosari- Bedoyo. Tapi sekarang, mereka sudah semakin terang-terangan mengeruk bukit-bukit kapur untuk dipindahkan ke tempat pengolahan dengan truk-truk besar.

Di atas Gua Seropan, gua dimana air bersih diambil untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Gunungkidul dan Wonogiri ada satu bukit yang luruh separuh.

Tidak hanya satu bukit, tapi ada beberapa bukit yang diduga dibawahnya mengalir sungai bawah tanah yang hancur luluh.

Semakin hari, penambangan semakin meresahkan pandangan dan perasaan. Mungkin ini bentuk dari perlawanan terhadap pemerintah

“Pemerintah itu ngambang kok mas, nggak mau tegas kalau A ya A kalau B ya B” celoteh si bapak yang pernah ikut demo menentang moratorium penambangan di kantor Bupati Gunungkidul beberapa waktu lalu.

“Demo itu bisa dinegosiasikan mas”, si bapak menambahkan, “yang penting kami masyarakat ini diberi solusi, bukan hanya dilarang.”

Si Bapak bercerita, kalau dulu juga pernah menjadi penambang, tapi sekarang sudah berhenti.

“Saya tahu mas, kalau menambang bukit itu merusak lingkungan tapi gimana lagi, perut harus terus diisi.”

Ada benarnya juga, perlu adanya negosiasi untuk mencari jalan keluar pemanfaatan karst Gunungsewu yang tidak merusak. Pemerintah tidak hanya melarang, tapi juga memberi solusi dan alternatif mata pencaharian yang lebih baik.

Mungkin ini yang sulit, namun jika pemerintah daerah serius, pemanfaatan karst tanpa merusak bisa menghasilkan pendapatan yang sangat besar tinggal bagaimana pemerintah daerah serius memulai dan mengelola.

Salah satu yang sudah tampak adalah wisata gua seperti Gua Pindul. Pendapatan yang besar menjadi alternatif pemanfaatan karst dan gua-gua yang ada di dalamnya.

Namun sekali lagi, pengelolaan yang benarlah yang harus dikedepankan sehingga masyarakat tidak harus mengeruk bukit-bukit karst yang merupakan tipe karst tropik tipe “gunungsewu” yang terbaik.

20131019-172343.jpg

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: