Skip to content

Simpang Saga – desanya emas putih (1)

October 31, 2013
photo

Gua Rojali, Simpang Saga – tempat hunian walet

“Pak, bisa ikut ke Palembang untuk lihat gua yang dihuni walet nggak?”, tanya Pak Denny di seberang sana.

Agak ragu untuk menjawab pertanyaan itu, karena saat itu sedang mendampingi mitra kerja dari AMNH yang sedang penelitian kalajengking di Sumatera. Saat itu, saya masih harus menuju Prapat dan tinggal di sana untuk beberapa hari sebelum berangkat ke Medan untuk kembali ke Jakarta.

“Rencana tanggal 22-25 Juli 2013”, lanjut Pak Denny di telepon.

Saya kembali berpikir karena tanggal 24 Juli 2013, teman-teman di Tim Karst LIPI berencana untuk kegiatan lapangan di Pacitan Jawa Timur. Selain itu, tanggal 21 Juli 2013 mitra kerja saya akan kembali ke Amerika.

Akhirnya saya belum berani memberi jawaban karena harus konfirmasi dulu dengan teman-teman tim karst yang akan meluncur ke Pacitan.

Setelah berdiskus dengan Sigit ketua tim yang akan ke Pacitan, akhirnya saya memutuskan untuk menerima tawaran Pak Denny untuk ke Sumatera Selatan. Saya tertarik karena belum pernah ke gua-gua di Sumatera Selatan.

Saya hanya dengar nama-nama gua dari teman-teman Le Gua Speleoclub yang banyak memberikan bantuan spesimen dari gua-gua di Ogan Kemering Ulu seperti Gua Putri, Gua Suruman dan Gau Selabe.

Setelah itu, saya hanya punya waktu seminggu untuk mempersiapkan semuanya. Setelah mitra kerja pulang pada hari Sabtu, pada hari Senin saya harus terbang ke Palembang pagi buta, karena penerbangan Garuda jam 7.30 WIB.

Menuju tanah Pempek
Pagi-pagi buta saya harus sudah berangkat dari rumah ke bandara naik Damri jam 4. Sampai di bandara harus prin tiket dulu, ternyata jadwal penerbangan seharusnya jam 6:10 bukan 7:10, untung masih bisa naik pesawat.

Sampai di Palembang, saya harus bertemu Pak Denny, kemudian menuju ke Muara Dua, ibukota Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, kabupaten pemekaran.

Perjalanan jam 9:00 dari Palembang menuju Muara Dua dan akhirnya sampai di sana jam 15:00, perjalanan yang cukup panjang.

AKhirnya kita singgah di hotel baru di ‘pusat kota’ Muara Dua, hotel Syukur, untuk istirahat dan baru besoknya kita akan ke lokasi dimana di desa itu banyak gua yang dihuni Walet.

Konon gua-gua itu dikelola turun temurun dan secara bergantian mengelolanya. Sebagian dari hasil panenan dibagikan ke warga lainnya yang tinggal di kampung itu.

Saya penasaran dengan gua ini, karena tidak banyak gua yang terdengar dari Kabupaten OKU Selatan khususnya sekitaran Muara Dua.

Gua beratap

Paginya, kami bersiap untuk ke Desa Simpang Sago, sekitar 1 jam ditempuh dari Muara Dua melalui jalan beraspal yang menyusuri sungai. Di beberapa tempat, di pinggir jalan tampa jalanan longsor karena tergerus air. Ada satu bagian yang spertinya di bawah jalan sudah berlubang meninggalkan beton yang menahan. Entah sampai kapan jalan itu akan bertahan.

Sampai di desa, kami ke rumah pak desa, Pak Rojali, nampak rumah yang sangat bagus dengan semacam garasi mobil penuh dengan tumpukan karet mentah.

Di belakan rumah, ada lahan luas yang dibeton dan membentuk cekungan seperti corong. Di tengah “corong ada atap dengan genting dari tanah liat.

Sementara, di sisi lain ada bangunan beritingkat dengan lubang-lubang kecil khas rumah walet.

Ternyata, bangunan beratap di dasar cekungan itu adalah mulut gua, tempat dimana walet membangun sarangnya dengan liur yang harganya sangat mahal.

Saya bertanya-tanya kenapa harus dibeton seekitar mulut guanya. Karena agak aneh buat saya karena semua air akan mengalir dengan lancar ke dalam gua.

“Ini semua saya beton supaya tanah tidak masuk ke dalam gua”, jawab pak Rojali.

Selain air masuk dengan lancar tanpa membawa tanah, tentu suhu permukaan di sekitar mulut gua akan meningkat dan tentu saja hal ini akan mempengaruhi iklim mikro yang ada di dalam gua.

Namun, saya tidak menanyakan lebih lanjut ke beliau karena bersamaan dengan itu datang anak buah Pak Rojali yang mau menunggu gua lainnya.

Berbincang sebentar, akhirnya diputuskan untuk ke gua yang lebih besar yang biasa disebut Gua Besar.

Cerita bagaimana Gua Besar dan orang-orang yang menunggunya serta apa saja yang ditemukan di dalamnya akan diceritakan di tulisan berikutnya.

‘keep on eye”

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: