Skip to content

Y Anchor – Rigging Luweng Serpeng

November 5, 2013
Photo 05-11-13 18 58 13

Perhitungan sudut Y-anchor dari Sunu Widjanarko (2005)

Gunung Sewu – Indonesian Cave and Karst Journal terbitan pertama yang mengupas banyak hal dari agresifitas air tanah hingga arkeologi dan bahkan teknik rigging.

Tulisan mencerahkan dari caver kawakan yakni Sunu Widjanarko yang mengupas tentang Y-Anchor. Membaca tulisan ini saya teringat Luweng Serpeng, luweng yang telah menorehkan sejarah kelabu dunia speleologi dan caving Indonesia.

Karena semua kejadian di Luweng Serpeng beberapa waktu lalu tidak perlu terjadi jika Y-anchor ini digunakan.

Dalam tulisan Y-Anchor, master caver Sunu Widjanarko menggunakan contoh gua-gua di Panggang yang mempunyai tipe lorong multi pitch dengan dinding kiri kanan sempit sehingga menghasilkan style tersendiri dalam kontek riging yaitu riggind dengan Y-anchor.

Dalam tulisannya dikupas tentang keuntungan Y-anchor yaitu membagi beban ke dua posisi anchor yang berbeda, tidak berdekatan, berseberangan dan tidak satu bidang.

Sehingga, menurut master caver ini rigging  dengan Y-anchor dapat memperbesar faktor keamanan.

Simpul

Lantas simpul apa saja yang digunakan?

Dalam uraiannya sedikitnya ada enam cara membuat Y-anchor yaitu dengan sling, menggunakan dua sling, simpul delapan ganda gelung (double figure eight on bight) atau playboy, bowline on bight, spanish bowline knot dan tripple crown knot.

Tentu saja masing-masing dari simpul tersebut punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Contoh, simpul playboy mempunyai keuntungan mudah diatur panjang masing2 loop, hal ini dapat dengan mudah menempatkan posisi tali jatuh pada tempat yang tepat.

Master Sunu juga menambahkan ada keuntungan lain playboy untuk menyesuaikan ulang panjang loop juga mudah sekiranya diperlukan karena alasan tertentu seperti  simpul yang semakin erat dan pembagian beban yang tidak baik.

Nah, bagaimana membuat rigging Y-anchor dengan simpul playboy dengan sudut yang aman? Dalam tulisannya tersebut master sunu mengupas dengan ukuran-ukuran sudut yang saya tidak paham, silakan cari jurnal Gunungsewu terbitan pertama.

Luweng Serpeng

Apa hubungan Luweng Serpeng dengan Y-anchor dan tentu dengan musibah yang merenggut tiga caver muda yang potensial dan salah satunya adalah adikku di Matalabiogama, Dian.

Profil lorong dan mulut gua Luweng Serpeng memang unik, ada aliran sungai musiman yang masuk di sebelah kiri mulut gua dan berlanjut ke bawah ke dasar pitch 30 m kemudian berlanjut ke pitch 17 dimana dasarnya berlorong besar dan atap besar.

Melihat ini, dalam kondisi musim yang tidak tentu seperti saat ini sangat berisiko untuk menyusuri lorong menggunakan pitch dimana air hujan mengalir semuanya kedalam lorong tersebut.

Untuk memperkecil risiko, tentu kita harus melihat semua kondisi lorong dan mulut gua dimana posisi aman untuk menempatkan anchor atau tambatan.

Melalui arah aliran sungai tambatan tidak terlalu sulit meskipun kesulitan muncul ketika descending atau pun ascending yang akan menemukan banyak titik friksi, kalau teman di Matalabiogama menyebut “sejuta padding”.

Selain untuk memperkecil risiko terhadap banjir, mencari alternatif tambatan lain juga mempermudan ascending dan descending bagi seluruh anggota tim.

Nah, lantas bagaimana rigging yang aman dan nyaman di Luweng Serpeng?

Jika diperhatikan ketika kita mendekati mulut Luweng Serpeng, ada teras kecil di kanan atas yang cukup untuk dua bahkan tiga orang.

Dulu ketika di Matalabiogama yang mempunyai “style” Y-anchor di Luweng Serpeng saya mengalami banyak tahapan dari hanya sekedar ngerek barang sampai harus rigging di sana.

Namun tentu saja “style” Matalabiogama di Serpeng bukan ujug-ujug tapi ada proses yang panjang. Senior-senior pendahulu telah mengalami proses sejuta padding dari celana jins, karpet hingga padding dan protector yang layak.

Dari proses tersebut, disimpulkan Y-anchor di Luweng Serpeng adalah yang terbaik dan aman untuk penelusuran.

Aman dari sisi mana?

Matalabiogama kenyang berkegiatan di Luweng Serpeng dengan menurunkan tim besar tidak cukup 3-5 orang tapi bisa belasan orang masuk bersamaan dengan barang dan perkakas yang tidak masuk akal.

Aman disini terbukti ketika tim yang sedang penelitian di kirimi banjir pada jam yang hampir bersama dengan kejadian april lalu. Meskipun posisi tim tidak sedang di lintasan ataupun di dasar pitch 47 melainkan ada di danau bawah tanah di kedalaman 100 m.

Banjir disini tidak menerjang semua lintasan dari atas melainkan hanya lidah banjir atau percikan namun cukup kuat untuk menyusahkan penelusur yang ascending maupun descending.

Dengan posisi Y-anchor kecepatan ascending dan descending menjadi meningkat apalagi dengan tali tanpa simpul, praktis descending lepas dari intermediate Y-anchor menuju lintasan utama langsung bisa melorot dengan cepat bebas hambatan.

Begitu pula dengan ascending karena posisi sempurna menggantung sehingga efektif untuk menggunakan frog rig berbeda ketika ascending nempel dinding yang tidak menggantung sempurna.

Kebanjiran pertama, semua tim selamat meskipun ada beberapa alat yang terbawa karena terletak di posisi aliran air di dekat danau.

Kebanjiran kedua, saya menjadi rigging man dan connecting person antara tim di luar gua dan tim di dekat danau. “connecting person ini selalu ada dalam kegiatan di Matala biogama ketika menyusuri Luweng Serpeng. Begitu pula ketika tim pertama kebanjiran, ada connecting person disitu yaitu Nugi alias Dwi Nugroho Adhiasto.

Inilah salah satu manajemen penelusuruan yang Matalabiogama lakukan.

Bagaimana menentukan lintasan utama dan lintasan barang yang semuanya bertumpu pada Y-anchor di mulut gua.

Sulit rigging

Rigging Y-anchor tidaklah mudah, karena posisi lorong kanan kiri tidak berdekatan melainkan lebar dan jauh sehingga perlu orang yang cukup mental untuk pasang lintasan di seberang dinding.

Di seberang, ada column pendek dan teras sempit yang bisa digunakan sebagai anchor dan itu jadi tambatan utama untuk lintasan utama dan lintasan transport.

Sedikitnya perlu dua orang untuk buat Y-anchor di Serpeng satu di seberang dan satu diteras untuk membantu orang di seberang.

Mencapai teras juga tidak mudah, karena harus membuat lintasan turun dulu dan pendulum sekitar 4 meter dari titik jatuh tali dengan cara climbing.

Posisi ini yang paling sulit dan berat dan membutuhkan nyali yang besar dan juga fisik yang kuat karena arus climbing.

Namun jika riggin diseberang sudah selesai semua bisa disesuaikan dengan mudah denganmenggunakan simpul yang digunakan untuk Y-anchor.

Dalam hal ini Matalabiogama menggunakan simpul butterfly  dan tidak menggunakan playboy. Mengapa tidak menggunakan playboy? simpul Playboy sangat boros dalam menggunakan tali karena ada dua loop disana.

Simpul butterfly

Sedangkan butterfly hanya menggunakan satu loop sehingga tidak menyita banyak tali selain itu lebih mudah menentukan titik jatuh tali.

Mungkin tidak lazim menggunakan butterly untuk Y-anchor tapi ini spertinya simpul yang paling sederhana dan lebih mudah untuk dipakai dalam pemasangan lintasan.

Mungkin sekiranya ada yang mempunyai alasan teknis penggunaan butterfly dipersilakan.

Jadi, Y-anchor di Matalabiogama untuk penelusuran Serpeng sangat penting dan sangat memudahkan aktifitas yang tidak hanya eksplorasi tapi penelitian yang butuh waktu dua sampai tiga hari di dalam gua untuk menyelesaikan semua prosesnya dari angkut barang sampai pelaksanaan penelitian.

Mungkin itu dulu, untuk cerita bagaimana saat banjir di Serpeng kala itu akan saya ceritakan di bagian lain.

Safety First!

Bacaan:

Widjanarko, Sunu (2005) Y-anchor. Gunungsewu 1(1):52-58

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: