Skip to content

Ironi Ciorai – speleologi yang diam (1)

November 25, 2013

Tebing karst yang menemani sepanjang perjalanan ke Ciorai

Kemudian, Mirza posting di group Indocaver sebuah tulisan tentang masyarakat Ciorai dan bagaimana mereka hidup berdampingan penuh ironi dengan dua raksasa pabrik semen yaitu Indocement dan Holcim.

Dari postingan itu, seperti biasa aku, Abe, Mirza dan Syahrul yang telah sering jalan-jalan ke Cibinong barengan, tertarik untuk berkunjung ke Ciorai. Konon kalau naik mobil atau motor harus yang 4×4 atau motor trail.

Kebetulan gerobak SpeleoJimny-ku sudah layak untuk menjajal tanjakan berbatu. Akhirnya dari senggol-senggolan di facebook kita sepakati untuk ke Ciorai hari Minggu, 24 November 2013 dengan personil yang sudah konfirm Abe dan Mirza, meskipun kita belum dengar kabar dari Syahrul yang pernah iming-iming bakar ikan di Ciorai.

Berdesakan

Hari Sabtu, 23 November 2013 kebetulan ada janjian sama Sigit, kolega yang ahli kelelawar dan seneng masuk gua juga dan dia tertarik untuk gabung di hari minggu. Akhirnya, sekitar pukul 7.45 ada SMS masuk dari Mirza kalau dia sudah di Alfamart dengan Exit Tol Citeureup bersama temannya. Sementara Abe sedang meluncur dari Serpong menuju Citeureup.

Sekitar pukul 09.00, saya bersama sigit meluncur ke meeting point ternyata disana sudah ada Abe, Mirza dan Safik Ketua PALAWA Unpad yang merupakan juniornya Mirza. Setelah berlima kumpul, dalam gerobak yang sempit ditambah beberapa tas akhirnya kita berdesakan menuju lokasi. Kebetulan Edo, anak Linggih Alam, sedang ada baksos di Ciorai sehingga kita bisa ada alasan untuk kesana.

Setelah bertanya ke Edo kemana harus mengarah ke Ciorai dengan beban lima orang kita mulai bergerak menuju Pasar Citeureup ke arah Tajur atau Pasir Mukti, Dari sana langsung menuju ke Desa Leuwi Karet menyeberang jembatan yang melintas di atas Sungai Cileungsi. Sampai disana kita sudah akrab karena sering ke Cikaray dan jalan menuju ke Ciorai harus belok kanan di dekat BTS menuju jalan berbatu.

Begitu mulai jalan berbatu, didepan kita sudah mulai ada pemandangan sawah yang mulai ditanam. Jalan pengerasan dengan batu semakin membuat goyangan gerobak dengan muatan penuh berdecit kaki-kakinya. Sebenarnya perjalanan ini sangat nekat, karena solo run tanpa ada back up recovery jika terjadi apa-apa di perjalanan.

Tapi dengan optimisme nekat dan dengan otot-otot penumpang di dalamnya aku semakin pede dibalik kemudi mengendalikan wheel steer yang muter-muter ikut jalanan berbatu.

Tanjakan pertama

Beberapa tanjakan ringan tanpa kesulitan dengan 4L dapat dirangsek dengan muatan penuh. Beberapa meter di depan, tanjakan cukup curam mulai menantang. Karena cukup curam, dan sekaligus untuk motret akhirnya abe dan Sigit turun dan hanya aku bertiga.

Tanjakan menuju Ciorai

Di depan lagi ternyata tanjakan lebih curam dan panjang menghadang. Karena sudah tengah hari, sambil nunggu waktu yang pas, kita turun dari gerobak sambil melihat pemandangan yang cukup menakjubkan.

Masih tidak percaya kalau lokasi dengan tebing-tebing menantang dan vegetasi yang cukup rapat di kaki tebing hanya berada sekitar 15 km dari kantorku. Aku dan Sigit cukup tergelitik, apa kita sudah cukup tahu dengan apa yang ada di dekat kita?

Mengapa kita harus pergi jauh ke pulau-pulau di timur jauh sana, bahkan di luar negeri sampai Laos, Vietnam? Sementara di dekat kita, gua-gua dan kehidupan di dalamnya kita tidak tahu apa-apa.

Sebuah Ironi ilmu pengetahuan, Ironi Speleologi, Ironi Karst, dan mungkin masih banyak ironi-ironi lain yang akan banyak ditemukan diujung jalan sana.

Speleologi yang diam

Sebenarnya jika ditanya ada berapa gua yang ada di Cibinong khususnya Ciorai mungkin tidak banyak yang bisa menjawab, dan hanya diam.

Daerah ini terlalu dekat dengan ibukota, tapi kita tidak tahu apa-apa tentang apa yang ada di dalamnya, bagaimana gua-guanya dan seberapa dalam gua yang pernah ditelusuri.

Sebenarnya ini tantangan yang tidak perlu banyak biaya, hanya butuh kemauan dan komitmen untuk mengeksplorasi setiap jengkal karst yang ada disana.

Mari kesana, jangan hanya diam memandang terlalu jauh ke negeri yang bukan milik kita sehingga tidak pernah bisa berkontribusi apa-apa untuk kelestarian karst di Indonesia.

(Bersambung)

Advertisements
4 Comments leave one →
  1. November 25, 2013 12:29 pm

    Terharu mbacanya Mas, memang deket banget sama Jakarta tapi masih jarang yang mau eksplor karst lebih jauh (dan sering). Saia kesana aja baru 3 kali :(

  2. December 2, 2013 1:34 pm

    Ini versi pemula banget memungkinkan masuk ga? :p

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: