Skip to content

Menanggapi kemarahan dan keramahan lingkungan pabrik semen Rembang

April 10, 2015
Neraca rembang

Neraca Kebutuhan Air berdasarkan dokumen ANDAL (Sumber: dokumen Andal dg perubahan perwajah dan data reservoir tidak jelas)

PT Semen Indonesia dalam rilisnya yang salah satunya dimuat Republika Online (9 April 2015) mencoba menjawab kekhawatiran para pihak yang menentang pendirian pabrik semen karena dianggap mengancam lingkungan dan ketersediaan air.

Dalam rilisnya tersebut, Direktur Utama PT Semen Indonesia, Suparni mencoba menjawab tuduhan ketidakramahan tersebut dengan terobosan maupun langkah yang dianggap ramah lingkungan. Terobosan tersebut seperti penggunaan non mobile transportation equipments, lokasi tambah tidak terdapat sumber air dan pembuatan green belt selebar 50 m mengeliling lokasi tambang.

Namun, setelah kembali melihat dokumen ANDAL, saya pribadi merasa ada hal yang tidak selaras antara apa yang disampaikan Dirut PT SI dengan dokumen ANDAL yang sebagai salah satu syarat keluarnya ijin lingkungan yang konon telah mengantongi 34 ijin.

Berikut hal-hal yang menurut saya tidak selaras antara keramahan lingkungan PT SI dibandingkan dengan dokumen ANDAL.

Menghindari debu

Dalam pernyataannya, “Pabrik semen Rembang dikonsepkan untuk semaksimal mungkin menggunakan nonmobile transport equipments”. Hal ini diharapkan pabrik sepi, tidak banyak orang, tidak banyak debu dan tidak membeli solar. Sebuah upaya yang sangat ramah lingkungan untuk sebuah pabrik semen di Indonesia.

Namun, dalam dokumen Andal ditemukan di beberapa halaman yang berkaitan dengan alat angkut (Hal II-19), dan fasilitas jalan (Hal II-20). Dalam dokumen ditemukan lebih banyak penggunaan mobile transport equiments, terutama proses pengangkutan batu gamping dimana digunakan backhoe kapasitas 1.8 m3 (PC400) dan 2.8 m3 (PC750).

Sedangkan alat angkut yang digunakan adalah truk dengan kapasitas 20 ton. Hal yang sama juga dilakukan untuk pengangkutan tanah liat yakni backhoe (PC200 dan PC400) dan truk (Kapasitas 20 ton).

Dari kebutuhan peralatan utama diperlukan sedikitnya 178 tenaga operator. Pada Tabel 2.4. akan dioperasikan sebanyak 6 backhoe, 50 truk, 2 bulldozer dan 1 backhoe untuk quarry batugamping . Demikian pula untuk kebutuhan quarry tanah liat, meskipun diperlukan lebih sedikit alat utama.

Jalan angkut yang disediakan pun selebar bukaan 50 meter terutama dari quarry sampai crushing. Penggunaan nonmobile transport hanya pada bagian setelah hammer crusher dan clay cutter berupa conveyor belt.

Pun demikian pengangkutan paska produksi berupa semen untuk distribusi masih menggunakan truk (Hal. II-70).

Dari data tersebut tampak tidak selaras dengan apa yang disampaikan oleh pihak PT SI, dimana mereka memaksimalkan nonmobile transport equipments untuk antisipasi gangguan lingkungan meskipun fakta di dokumen Andal tidak demikian.

Pabrik sepi dan tidak banyak orang juga tidak selaras dengan pernyataan bahwa pabrik semen akan membuka peluang pekerjaan.

Pemenuhan kebutuhan bahan bakar dengan tidak membeli solar juga dirasa kurang masuk akal untuk skala industri sebesar pabrik semen. Padahal untuk kebutuhan pemanfaatan batu bara diperlukan solar untuk start-up proses pembakaran, pembakaran tambahan, kendaraan angkut dan alat berat.

Sumber-sumber air dan penggunaan air

General Manager of Corporate Secretary PT SI, Agung Wiharto menyampaikan bahwa isu kerusakan lingkungan dan kekurangan air menjadi senjata pihak yang menentang, namun pihak PT SI sudah memiliki jawaban, solusinya serta teknologinya untuk menyelesaikan masalah tersebut.

“Hal tersebut sebagaimana aturan pemerintah soal eksplorasi dan eksploitasi di mana area tambang minimal 200 meter menjauhi sumber mata air dan gua. “

Pernyataan ini seakan mengecilkan sebuah proses dan siklus hidrologi. Padahal mata air hanya lah sebuah bagian kecil dari proses dan siklus tersebut. Meskipun penambangan sejauh 200 meter dari mata air dan gua, namun proses hidrologinya tidak bisa disamakan dengan kawasan non karst.

Selain itu, dalam dokumen ANDAL jelas disampaikan, bahwa “kawasan IUP merupakan kawasan imbuhan/resapan air tanah. Daerah resapan air tanah ini merupakan tempat masuknya air ketika terjadi hujan menuju akuifer yang kemudian dikeluarkan dalam bentuk mata air (Hal. III-19).

Dalam dokumen juga disebut bahwa IUP merupakan 40% dari tangkapan mata air Brubulan (Hal. III-30). Jika daerah tangkapan 40% nya dikupas dan dipotong, tentu hal ini akan mempengaruhi debit mata air Brubulan yang merupakan mata air vital bagi masyarakat untuk mandi, mencuci dan irigasi meskipun lokasi penambangan jaraknya lebih dari 200 m sesuai peraturan pemerintah.

Selain itu, menurut Agung Wiharto, gaya penambangan tidak akan menggunakan air, sehingga tidak akan ada penyedotan air yang berpotensi menyebabkan kekeringan.

Pernyataan ini menurut saya sebuah bentuk misleading information yang semestinya tidak perlu. Dalam hal proses penambangan semua tahu bahwa tidak diperlukan air apalagi penyedotan air, karena penambangan sendiri hanya perlu peledak, alat muat dan alat angkut ke crusher.

Namun, dalam proses pembuatan semen dan dampak ikutannya tentu saja diperlukan air untuk keperluan mendukung proses di dalam pabrik.

Hal ini jelas ditampilkan di dokumen Andal bahwa penyediaan air berasal dari sumber air tanah (Hal. II-77). Air tanah tentu diambil dengan proses penyedotan air sehingga bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan air sanitasi maupun air proses.

Dalam dokumen disebutkan kebutuhan air untuk pabrik semen mencapai 2000 m3/hari setara dengan 23 liter per detik. Sebuah kebutuhan air yang sangat besar sementara untuk keperluan irigasi hanya hanya sebesar 17 liter per detik.

Jadi menurut PT SI, kebutuhan 23 liter per detik bukanlah sebuah ancaman akan terjadinya kekeringan.

Dua hal tersebut yang saat ini bisa saya kritisi dibandingkan dengan dokumen ANDAL. Dokumen tersebut merupakan “dokumen resmi dan sah” meskipun banyak kejanggalan didalamnya. Namun demikian, dokumen inilah yang menjadi dasar keluarnya ijin lingkungan pendirian pabrik semen maupun penambangan.

Jika pernyataan PT SI sudah tidak selaras dengan dokumen yang dijadikan dasar keluarnya ijin lingungan mengenai keramahan lingkungannya , lantas dasar apa yang bisa meyakinkan pihak-pihak yang menentang untuk bisa menerima bahwa proses yang akan dilakukan adalah proses yang sangat ramah lingkungan dan tidak akan mengancam lingkungan.

Mari berpikir lebih jernih mengenai keramahan lingkungan.

****

Oleh:

Dr. Cahyo Rahmadi

Advertisements
One Comment leave one →
  1. April 11, 2015 7:18 am

    sekali dia lakukan kebohongan selanjutnya akan lakukan 1000x kebohongan2 baru

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: