Skip to content

Y Anchor – Rigging Luweng Serpeng

November 5, 2013
Photo 05-11-13 18 58 13

Perhitungan sudut Y-anchor dari Sunu Widjanarko (2005)

Gunung Sewu – Indonesian Cave and Karst Journal terbitan pertama yang mengupas banyak hal dari agresifitas air tanah hingga arkeologi dan bahkan teknik rigging.

Tulisan mencerahkan dari caver kawakan yakni Sunu Widjanarko yang mengupas tentang Y-Anchor. Membaca tulisan ini saya teringat Luweng Serpeng, luweng yang telah menorehkan sejarah kelabu dunia speleologi dan caving Indonesia.

Karena semua kejadian di Luweng Serpeng beberapa waktu lalu tidak perlu terjadi jika Y-anchor ini digunakan. Read more…

Advertisements

ngumpul bareng yuks?

November 1, 2013

Kalau kembali ke masa lalu, dunia speleologi dan caving Indonesia sudah cukup panjang perjalanannya. Sejarah telah terlalu panjang untuk ditorehkan dan diceritakan kepada anak cucu di masa yang akan datang.

Namun, pernahkan kita bertanya sejauh mana kita selama ini berperan untuk kawasan karst dan gua di Indonesia. Apakah kira hanya sekedar keluar masuk gua? atau kita telah mulai berpikir untuk berperan mengelola kawasan karst.

Untuk itu, mohon masukannya di Questioner disini atau di form di bawah ini:

#Biotagua – apa perlu tahu ?

November 1, 2013

Sebenarnya ini hanya sekedar membunuh rasa ingin tahu, bagaimana sebenarnya teman-teman yang melakukan kegiatan penelusuran gua melihat apa yang ada di dalamnya.

Banyak aspek yang sebenarnya bisa dilihat, digali dan didokumentasikan dan pada akhirnya hal ini semua dapat menjadi kontribusi untuk kawasan karst dan isinya.

Salah satu bagian yang menarik buat saya adalah biota gua, yang mungkin hanya segelintir orang yang memperhatikan apalagi mendokumentasikan.

Selama dua hari pada tanggal 24-25 Oktober 2013, melalui akun twitter @kabarpetualang setelah berdiskusi dengan adminnya muncul quiz tentang biota gua. Sederhana saja, yang punya foto biota gua silakan mention @kabarpetualang dan @crahmadi dengan tagar #Biotagua – Read more…

Simpang Saga – desanya emas putih (1)

October 31, 2013
photo

Gua Rojali, Simpang Saga – tempat hunian walet

“Pak, bisa ikut ke Palembang untuk lihat gua yang dihuni walet nggak?”, tanya Pak Denny di seberang sana.

Agak ragu untuk menjawab pertanyaan itu, karena saat itu sedang mendampingi mitra kerja dari AMNH yang sedang penelitian kalajengking di Sumatera. Saat itu, saya masih harus menuju Prapat dan tinggal di sana untuk beberapa hari sebelum berangkat ke Medan untuk kembali ke Jakarta.

“Rencana tanggal 22-25 Juli 2013”, lanjut Pak Denny di telepon. Read more…

Karst Maros, secuil surga jatuh ke bumi

October 21, 2013
tags: ,
pangkep

Bentangalam di Kampung Bellae, Minnasatene, Pangkep

Matahari pagi muncul dari balik bukit karst yang menjulang tinggi di Kampung Bellae, di Kecamatan Minasa Te’ne Kabupaten Pangkajene Kepulauan sekitar 45 km sebelah utara Bandara Sultan Hasanuddin Maros.

 Di kejauhan nampak pohon siwalan yang muncul berdampingan dengan batu-batu gamping yang masih tersisa di tengah persawahan yang mengering dengan latar belakang tower karst yang menjulang.

Read more…

Separuh bukit karst, hilang kurang dari setahun

October 19, 2013

Tampak lubang di tebing yang terkupas menganga di dekat pertigaan Bedoyo, Gunungkidul. Konon, tebing sisa kerakusan begu ini sudah ditinggalkan oleh para penambang. Bukit kapur yang berbentuk “conical hills” ini sudah separuh terkupas.

“Gunung ini belum setahun mas ditambang, belum lama kok”, seorang ibu pemilik warung menjawab pertanyaan kami ketika berbincang di Bedoyo Kamis (17/10) lalu.

Belum setahun, tapi sudah menghasilkan kerusakan yang luar biasa, begitu rakusnya mesin-mesin pengeruk bukit itu.

Bisa dibayangkan berapa bukit akan hillang dalam 10 tahun mendatang jika kurang dari dua tahun hilang satu bukit kapur,

“Bagian bukit yang ditambang itu milik kas desa mas”, seorang bapak yang mendekati kami menimpali diskusi kami dengan ibu pemilik warung.

“Kalau yang sebaliknya, itu milik masyarakat tapi mereka nggak mau jual”, si bapak melanjutkan omongannya.

Si ibu pemilik warung juga menambahkan kalau penambang sudah pindah ke bukit yang tidak jauh dari situ.

Nilai satu bukit atau tiap lokasi tambang berbeda-beda dan tidak tentu. Ada yang dihitung setiap jumlah truk yang keluar ada yang dipatok harganya tergantung penjual bukit. Namun konon tidak pernah besar mencapai 50 juta. Namun entahlah, karena pemilik tambang banyak dari orang luar, dan masyarakat hanya pekerja.

Menantang
Dahulu, para penambang banyak mengikis bukit-bukit kapur yang jauh dari pinggir jalan besar sepanjang Wonosari- Bedoyo. Tapi sekarang, mereka sudah semakin terang-terangan mengeruk bukit-bukit kapur untuk dipindahkan ke tempat pengolahan dengan truk-truk besar.

Di atas Gua Seropan, gua dimana air bersih diambil untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Gunungkidul dan Wonogiri ada satu bukit yang luruh separuh.

Tidak hanya satu bukit, tapi ada beberapa bukit yang diduga dibawahnya mengalir sungai bawah tanah yang hancur luluh.

Semakin hari, penambangan semakin meresahkan pandangan dan perasaan. Mungkin ini bentuk dari perlawanan terhadap pemerintah

“Pemerintah itu ngambang kok mas, nggak mau tegas kalau A ya A kalau B ya B” celoteh si bapak yang pernah ikut demo menentang moratorium penambangan di kantor Bupati Gunungkidul beberapa waktu lalu.

“Demo itu bisa dinegosiasikan mas”, si bapak menambahkan, “yang penting kami masyarakat ini diberi solusi, bukan hanya dilarang.”

Si Bapak bercerita, kalau dulu juga pernah menjadi penambang, tapi sekarang sudah berhenti.

“Saya tahu mas, kalau menambang bukit itu merusak lingkungan tapi gimana lagi, perut harus terus diisi.”

Ada benarnya juga, perlu adanya negosiasi untuk mencari jalan keluar pemanfaatan karst Gunungsewu yang tidak merusak. Pemerintah tidak hanya melarang, tapi juga memberi solusi dan alternatif mata pencaharian yang lebih baik.

Mungkin ini yang sulit, namun jika pemerintah daerah serius, pemanfaatan karst tanpa merusak bisa menghasilkan pendapatan yang sangat besar tinggal bagaimana pemerintah daerah serius memulai dan mengelola.

Salah satu yang sudah tampak adalah wisata gua seperti Gua Pindul. Pendapatan yang besar menjadi alternatif pemanfaatan karst dan gua-gua yang ada di dalamnya.

Namun sekali lagi, pengelolaan yang benarlah yang harus dikedepankan sehingga masyarakat tidak harus mengeruk bukit-bukit karst yang merupakan tipe karst tropik tipe “gunungsewu” yang terbaik.

20131019-172343.jpg

Helm caving Petzl yang bernasib sial

October 7, 2013
tags:
Penampakan helm Explorer yang nasibnya cukup tragis

Penampakan helm Explorer yang nasibnya cukup tragis

Dari kejauhan, terlihat teman-teman penelusur gua yang memakai cover all dengan menjinjing helm mendekat ke arah warung dimana saya sedang menikmati kopi di tengah gelaran International Cave Festival di Kampung Bellae, Kecamatan Minasa Te’ne, Pangkep.

Ternyata mereka adalah teman-teman dari salah satu intansi yang ikut di acara ini. Helm Explorer Petzl warna merah dengan aceto yang masih bersih dijinjing oleh mereka. Setelah dekat, saya berbincang dengan mereka tentang banyak hal.

Sejurus, saya melihat ada yang ganjil di kotak kuning tempat menyimpan batere yang ada di belakang helm. Bagian bawah kotak pecah yang menurut saya bukan karena terbentur atau pecah terjatuh. Tapi seperti ada upaya “sistematis” yang menjadikan kotak batere harus berakhir tragis seperti itu. Read more…

%d bloggers like this: